Ibu-ibu yang hadir dalam Gerakan Melawan Stunting diberikan bingkisan oleh perwakilan HaloPuan.

Gandeng KNPI, HaloPuan Adakan Gerakan Melawan Stunting di Kuningan Jawa Barat

Nasional

JAKARTA – HaloPuan cukup aktif menggelar berbagai kegiatan sosial. Sebelumnya, mereka bekerja sama dengan kader PDI Perjuangan (PDIP) di Jawa Barat dalam Gerakan Melawan Stunting.

Kali ini, HaloPuan menggandeng Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Kuningan menggelar kegiatan yang sama di Desa Ciasih, Kecamatan Nusaherang, Sabtu (4/6/2022). Ciasih merupakan salah satu dari 36 desa di Kabupaten Kuningan yang menjadi lokus penanganan stunting.

Baca juga :  Kepolisian Republik Indonesia Selidiki Otak Pembobol Rekening Nasabah

Poppy Astari, Koordinator HaloPuan menjelaskan, lembaga sosial Puan Maharani tersebut memiliki sejumlah program. Dari berbagai program yang ada, salah satu yang difokuskan adalah Gerakan Melawan Stunting. Gerakan tersebut merupkan  buah kepedulian Puan kepada generasi masa depan bangsa.

“Jika tidak ditangani sejak sekarang, kita tidak akan mendapatkan bonus demografi pada saat Indonesia berusia 100 tahun nanti,” kata Poppy, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (5/6/2022).

Ia melanjutkan, merujuk data Riskesda 2018, prevalensi stunting di Kabupaten Kuningan mencapai 28%. Ini menjadikan Kuningan masuk kategori cukup tinggi. Padahal, rata-rata dunia menurut WHO dikisaran 20%. Sementara itu, rata-rata nasional 30,8%.

Menurut data penimbangan balita pada Februari 2021, dari 66.598 balita yang ditimbang di Kuningan, ada 3.913 balita yang dinilai berada dalam kondisi stunting atau gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis.

Pada kegiatan yang dipusatkan di Ciasih, HaloPuan dan KNPI mengundang 150 orang. Mereka terdiri dari para ibu menyusui dan balita, ibu hamil, dan kader posyandu. Mereka memperoleh penyuluhan yang disampaikan Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan dr Agah Nugraha.

Dokter Agah memaparkan bahwa bayi yang stunting otak dan mentalnya tidak akan berkembang maksimal, sehingga saat dewasa tidak akan terlalu cerdas. “Ibu-ibu pasti sayang sama anak-anak ibu, tapi seringkali tidak menyadari pola makan yang baik,” jelas dr Agah menjelaskan soal balita stunting yang biasanya kekurangan protein.

Ia meminta para ibu-ibu tidak khawatir, karena stunting bukan penyakit. Namun, kondisi yang masih bisa diobati, jika anak belum melewati dua tahun.

Selain mendapatkan penyuluhan tentang bahaya stunting, peserta juga memperoleh informasi tentang manfaat super daun kelor yang disampaikan relawan HaloPuan Mochamad Chotim.

Kepala Desa (Kades) Ciasih Suherman berterima kasih pada HaloPuan dan KNPI yang telah menggelar Gerakan Melawan Stunting di desanya. Menurut Suherman, Desa Ciasih memang lokus penanganan stunting, tetapi data terakhir menunjukkan tinggal satu balita stunting di Ciasih.

Meskipun begitu, warga Desa Ciasih tetap harus mewaspadai munculnya kasus baru. “Agar ke depan tidak ada yang stunting lagi. Arahan dokter dan HaloPuan mudah-mudahan bisa dijalankan masyarakat kami,” imbuhnya.

Gerakan Melawan Stunting di Ciasih juga dihadiri Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Kuningan Dede Sembada, Kepada Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan Idik Sidik, Kepala Puskesmas Nusaherang dr Tita Ritawati, dan Camat Nusaherang M Reza.

Gerakan Melawan Stunting diakhiri pembagian paket makanan tambahan, termasuk di dalamnya 400 gram bubuk kelor kepada 150 peserta. HaloPuan juga menyerahkan tiga bibit kelor kepada perwakilan ormas, posyandu, dan kampus.(redaksi)

gerakan melawan stunting HaloPuan KNPI Komite Nasional Pemuda Indonesia Kuningan PDIP stunting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts