Yuliantoro, Alumnus Sosiologi UGM Yogyakarta.
Opini

Audit Dana Desa Kebutuhan Mendesak Wujudkan Good Governance Pemdes

Oleh: Yuliantoro* Dana desa adalah salah satu kebijakan fiskal paling progresif dalam sejarah Indonesia. Sejak digulirkan, triliunan rupiah mengalir langsung ke desa dengan harapan sederhana, namun fundamental. Yakni, mempercepat pembangunan dan memakmurkan masyarakat dari pinggiran. Namun, harapan itu kerap berhadapan dengan kenyataan pahit—lemahnya tata kelola, rendahnya kapasitas aparatur, dan pengawasan publik yang belum optimal. Di

Yuliantoro, alumnus Sosiologi UGm
Opini

Aparat Desa Itu Pelayan Publik, Bukan Aktor Politik

(Catatan Demo Kepala Desa di Jakarta) Oleh: Yuliantoro* Gelombang demonstrasi ribuan aparat desa yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pekan ini menimbulkan pertanyaan publik yang jauh lebih mendasar: siapa sebenarnya yang mereka wakili? Dan untuk kepentingan siapa aksi besar-besaran itu digelar? Apdesi menuntut pencairan dana desa

Yuliantoro, seorang penulis lepas.
Opini

Takdir yang Diubah oleh Air Mata Ibu

Oleh: Yuliantoro* Di sebuah kota tua di Maghrib, hiduplah seorang wali yang dikenal masyarakat, karena ibadahnya yang panjang dan keshalihannya yang bening. Beliau adalah Syekh Abdul Aziz ad-Dabbagh. Nama beliau sering dibicarakan para murid, bukan karena karamah atau kedalaman ilmunya semata, tetapi karena ketenangan hatinya. Beribadah tanpa menuntut balasan apa pun selain ridha Allah. Suatu

Yuliantoro, dikenal sebagai penulis lepas dan alumnus Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Opini

Soeharto Pahlawan? Hati-Hati, Sejarah Bisa Diputarbalikkan

Oleh: Yuliantoro* Ketika muncul wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Jenderal Besar (Purn.) H. M. Soeharto, bangsa ini sebenarnya sedang dihadapkan pada ujian moral. Apakah kita masih setia pada kejujuran sejarah, atau memilih menutup luka dengan penghormatan simbolik? Gelar pahlawan bukan sekadar penghargaan, tetapi tindakan politik terhadap ingatan bangsa. Ia menentukan, siapa yang layak dikenang

Makam Pangeran Pekik di Banyusumurup, kompleks khusus bagi bangsawan yang dianggap bersalah.
Opini

Ketika Kekuasaan Takut pada Bayangannya Sendiri

Sebuah Refleksi Kekuasaan dari Pangeran Pekik Oleh: Yuliantoro* Kekuasaan besar selalu menuntut kepercayaan yang lebih besar. Tanpanya, ia rapuh—bahkan terhadap orang-orang terbaik di sekelilingnya. Sejarah Jawa pernah memberi pelajaran pahit lewat kisah Pangeran Pekik dari Surabaya, bangsawan setia istana yang justru dibunuh karena dianggap terlalu dicintai rakyat. Kini, ketika Indonesia memasuki masa transisi dari Presiden

Salah satu acara yang diadakan Telkomsel untuk mengedukasi generasi muda akan produk by U.
Opini Trend

Terus Lakukan Inovasi Produk dan Layanan, Melalui by.U, Telkomsel Garap Serius Segmen Generasi Z

Generasi Muda Merupakan Motor Penggerak Tren dan Masa Depan Pasar   Di era digital yang berkembang pesat, inovasi menjadi kunci bagi setiap perusahaan untuk bertahan dan bersaing. Bersamaan dengan itu, muncul pertanyaan penting, apakah setiap inovasi produk dan layanan harus berfokus pada generasi muda, khususnya Gen Z? Nah, ternyata rata-rata menjawab tidak selalu. Namun, mempertimbangkan

Yuliantoro, dikenal sebagai penulis lepas, santri, yang merupakan alumni Sosiologi UGM Yogyakarta.
Opini

Antara Ta’dzim, Perbudakan, Feodalisme, dan Bahaya Taklid Buta

Oleh: Yuliantoro*   Di banyak pesantren, kita kerap melihat pemandangan santri yang mencium tangan kiainya, berjalan menunduk. Bahkan, kadang jongkok ngesot ketika melintas di hadapan guru. Bagi sebagian orang luar, sikap itu dianggap kuno, bahkan menyerupai feodalisme. Mereka menilai bahwa hubungan antara santri dan kiai seperti antara tuan dan abdi, seolah-olah kiai menjadi pusat kekuasaan

Yuliantor, penulis lepas, muhibbin, yang juga alumni Sosiologi UGM Yogyakarta.
Nasional Opini

Simtuddurror, Cinta yang Menggerakkan Dunia

Refleksi Haul Solo Habib Ali Al Habsyi Oleh: Yuliantoro*  Even tahunan bulan Rabiul Akhir, Solo menjadi samudra manusia. Jutaan umat Islam—habaib, kiai, ustadz, pejabat, santri, dan rakyat jelata —berduyun-duyun menuju Masjid Ar-Riyadh Gurawan, Pasar Kliwon. Mereka datang bukan karena panggilan organisasi, melainkan karena getaran cinta. Cinta kepada Allah, kepada Rasulullah SAW, dan kepada seorang waliyullah

Anak-anak terlihat senang saat menerima makan siang yang diberikan pemerintah melalui program MBG.
Opini

Solusi Alternatif: Implementasi MBG Gaya Baru Berbasis Sekolah dan UMKM Lokal

Oleh: Dr. Ridwan Mahmudi MM., MAB* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari niat mulia: memastikan anak anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan mampu belajar dengan konsentrasi penuh. Secara teori, intervensi gizi dalam pendidikan adalah investasi jangka panjang terhadap human capital (Becker, 1964), karena anak anak yang mendapatkan nutrisi cukup akan lebih produktif, lebih mudah

Puluhan kuliner khas dihadirkan pada Pasar Lawasan Mataram. Salah satunya jenang gempol, di antara aneka kuliner lain, seperti kontol kejepit (tolpit), endok abang, geplak gereh, jadah manten, wedang rempah uwuh, hingga sayur lodeh dan gudeg.
Opini Seputar Jogjakarta

Pasar Lawas Mataram, Ketika Warga Pulang ke Masa Kerajaan

Oleh: Yuliantoro* Empat abad silam, Ki Gede Pemanahan membabat Alas Mentaok dan mendirikan pasar pertama di Kotagede. Dari pasar sederhana itu, lahirlah denyut Kerajaan Mataram Islam. Kini, denyut yang sama kembali bergaung dalam Pasar Lawas Mataram 2025—bukti bahwa sebuah kota besar selalu bertumpu pada keramaian pasar rakyat. Sejarah panjang Kotagede selalu berawal dari pasar. Pada