Antara Ta’dzim, Perbudakan, Feodalisme, dan Bahaya Taklid Buta
Oleh: Yuliantoro*
Di banyak pesantren, kita kerap melihat pemandangan santri yang mencium tangan kiainya, berjalan menunduk. Bahkan, kadang jongkok ngesot ketika melintas di hadapan guru. Bagi sebagian orang luar, sikap itu dianggap kuno, bahkan menyerupai feodalisme.
Mereka menilai bahwa hubungan antara santri dan kiai seperti antara tuan dan abdi, seolah-olah kiai menjadi pusat kekuasaan yang tak boleh digugat.
Namun sesungguhnya, dalam tradisi pesantren, sikap itu bukan bentuk perbudakan, melainkan ungkapan cinta dan adab terhadap ilmu. Santri menunduk bukan karena takut pada sosok kiai, melainkan karena tunduk pada ilmu yang dibawanya. Mereka mencium tangan bukan untuk menyembah, tapi untuk mencari berkah dari mata rantai keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ.
Kitab Ta’lim al-Muta’allim mengajarkan, “ilmu tidak akan masuk ke hati orang yang tidak menghormati guru.” Maka di pesantren, adab ditempatkan di atas kecerdasan. Santri yang fasih bicara tapi kasar pada gurunya dianggap gagal. Sementara santri yang lemah dalam hafalan, tetapi sopan akan lebih dihargai. Di sinilah letak ruh pendidikan Islam bahwa ilmu yang tidak dibarengi adab hanyalah beban akal, bukan cahaya hati.
Namun, Islam juga mengajarkan batas yang jelas antara hormat dan pengkultusan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kamu membungkuk kepada sesama manusia.” (HR. Ibnu Majah).
Dalam riwayat lain, ketika sahabat Mu’adz bin Jabal ingin sujud kepada Nabi ﷺ, karena terinspirasi dari kebiasaan orang-orang Syam yang sujud kepada pemimpinnya, Rasulullah menegur, “Janganlah engkau lakukan itu. Jika aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi).
Hadits ini menjadi pagar agar penghormatan tidak berubah menjadi penyembahan. Islam memuliakan guru, tetapi melarang pengagungan yang melampaui tauhid. Kiai sejati pun memahami ini — mereka tidak ingin disembah, tidak ingin dipuja, melainkan ingin agar muridnya beradab kepada ilmu, bukan kepada pribadi.
Sayangnya, dalam arus kehidupan modern, batas antara ta’dzim dan taklid buta kadang kabur. Ada santri yang begitu mencintai kiainya hingga tidak lagi berpikir kritis.Setiap ucapan guru dianggap mutlak benar, bahkan di atas dalil. Padahal para ulama terdahulu sudah memberi contoh, bahwa menghormati guru tidak berarti menutup akal.
Imam Syafi’i yang sangat menghormati gurunya, Imam Malik. Tetap Imam Syafi’i berani berbeda pendapat dalam masalah hukum. Ketika Imam Malik berfatwa dengan satu pandangan, Imam Syafi’i meneliti dalilnya dan, bila menemukan dasar yang lebih kuat, ia menyampaikan pendapat berbeda — dengan penuh adab. Ia berkata, “Setiap orang bisa diambil pendapatnya dan bisa ditolak, kecuali Rasulullah ﷺ.”
Hormat dengan Akal Hidup
Demikian pula Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Nawawi. Mereka semua dikenal beradab tinggi kepada guru, tapi tidak kehilangan akal sehat dan nalar ilmiah. Imam Nawawi bahkan menulis dalam Al-Majmu’, “Tidak boleh bagi seorang murid mengikuti pendapat gurunya tanpa dalil, karena taklid buta bukanlah jalan para pencari kebenaran.”
Pesantren sejati meneladani semangat itu, santri diajarkan untuk ta’dzim tanpa taklid buta. Mereka belajar hormat dengan akal yang hidup, bukan tunduk membabi buta. Sebab taklid buta justru bertentangan dengan hakikat ilmu. Ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak mungkin lahir dari kegelapan nalar.
Perbudakan dan feodalisme lahir dari ketakutan dan kepatuhan tanpa kesadaran. Sedangkan ta’dzim lahir dari cinta dan pengakuan akan kedalaman ilmu. Santri menghormati karena sadar dirinya belum tahu, bukan karena dipaksa tunduk. Tapi bila penghormatan itu berubah menjadi keyakinan bahwa kiai tidak mungkin salah, maka ta’dzim telah berubah menjadi taklid, dan taklid yang membutakan mata hati justru akan mematikan ruh ilmu itu sendiri.
Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan yang indah: hormatilah orang berilmu, tetapi jangan sembah siapa pun selain Allah. Dalam sebuah hadits beliau bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak orang yang berilmu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Hadits tersebut menunjukkan bahwa penghormatan adalah bagian dari iman — tapi tetap dalam koridor tauhid.
Kehilangan Jiwa
Karena itu, pesantren yang menjaga tradisi ta’dzim dengan kesadaran tauhid justru menjadi benteng dari penyakit peradaban modern berupa kesombongan intelektual dan kehilangan adab. Di tempat lain, ilmu sering membuat orang congkak, di pesantren, ilmu justru menundukkan hati. Namun bila adab kehilangan arah, bila santri berhenti berpikir, maka pesantren bisa kehilangan jiwanya sendiri.
Kiai sejati tidak ingin muridnya menjadi bayang-bayang dirinya. Mereka ingin santri tumbuh menjadi pribadi merdeka, berilmu, beradab, dan mampu berijtihad. Dalam ta’dzim ada penghormatan, tapi juga ada kesadaran bahwa setiap manusia, betapa alim pun dia, tetap bisa keliru.
Ta’dzim yang benar membuat hati lembut, bukan pikiran tumpul. Ia mengajarkan rendah hati, bukan rendah diri. Ia mendidik manusia agar hormat kepada ilmu, bukan takut kepada sosok. Di situlah letak perbedaan mendasar antara ta’dzim santri dengan feodalisme dan taklid buta. Dalam ta’dzim, seorang santri membungkuk dengan cinta — tapi hatinya tetap tegak di hadapan kebenaran. (****)
*Penulis lepas – santri – alumni Sosiologi UGM





