Tahun 2023, LPDB-KUMKM Bakal Salurkan Dana Bergulir Rp 2 Triliun
BOGOR – Lembaga Pengelola Dana Bergulir Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) bakal menyalurkan dana bergulir sekitar Rp 2 triliun pada tahun 2023. Jumlah tersebut ada sedikit kenaikan dibanding tahun 2022 ini sebesar Rp 1,8 triliun.
“Soal target penyaluran tahun pada tahun depan, kami masih negosiasi terkait angkanya. LPDB KUMKM tergantung dananya saja, Insyallah masih di kisaran Rp 2 triliun. Kalau tidak, minimal sama (dengan tahun ini sebesar Rp 1,8 triliun). Sejauh ini, kami masih memproses untuk meminta tambahan dana ke depan,” kata Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo saat acara Forum Group Discussion (FGD) di Bogor, pekan lalu (17/12/2022).
Terkait dengan isu bakal resesi ekonomi global pada tahun 2023, Supomo meyakini hal tersebut tidak akan mengganggu kinerja penyaluran dana bergulir pada pelaku koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.
Supomo mengakui, sudah mendapatkan proyeksi dan informasi terkait potensi resesi sejak awal dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
“Kami mendapatkan informasi tentang prediksi tahun gelap sejak awal termasuk arahan dan antisipasi dari Menteri Keuangan untuk apa saja yang bisa dilakukan,” paparnya.
Pada kesempatan tersebut, Supomo juga mengatakan, realisasi menyalurkan dana bergulir per pertengahan Desember 2022 mencapai Rp1,64 triliun atau 91,19 persen dari target penyaluran sebesar Rp 1,8 triliun. Ia meneruskan, proses menyalurkan dana bergulir tahun ini, tersisa Rp 159 miliar dari target. “Dari dana tersebut, kita tinggal mencairkan saja,” tambahnya.
Berdasarkan data yang dipaparkan secara akumulatif dalam kurun waktu 14 tahun terakhir (2008-2022), LPDB KUMKM menyalurkan dana sebesar Rp 15,60 triliun dengan rincian penyaluran dengan pola konvensional mencapai Rp 11,44 triliun dan pola syariah sebesar Rp 4,16 triliun.
Akumulasi dana tersebut sudah disalurkan di 34 provinsi dengan 3.219 mitra KUMKM kepada 413.516 penerima. “Total outstanding sepanjang 2008-2022 sebesar Rp 4,90 triliun dengan non-performing loan atau NPL pada tahun 2022 sebesar 3,01 persen,” katanya.(redaksi)





