Macapath Project Hidupkan Nuansa Budaya di Hari Filateli Nasional

YOGYAKARTA – Peringatan Hari Filateli Nasional (HFN) 2026 di Grha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, Minggu (29/3/2026), tak hanya menghadirkan deretan koleksi prangko dan diskursus filateli. Namun, juga mempertemukan publik dengan kekayaan tradisi lisan Jawa melalui penampilan komunitas Macapath Project.
Di tengah rangkaian acara yang berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 16.00 WIB, Macapath Project hadir sebagai salah satu pengisi pertunjukan budaya yang memberi warna berbeda. Tembang macapat yang mereka bawakan mengalun di sela agenda utama, menghadirkan suasana yang lebih reflektif di antara hiruk pikuk pameran dan aktivitas filateli.
Acara yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia (PFI) bersama Kementerian Kebudayaan RI dan Kementerian Komunikasi dan Digital RI, serta didukung Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta ini, diawali dengan registrasi peserta dan Seminar Filateli Nasional bertema “Filateli sebagai Media Pemajuan Budaya.”
Kemudian, rangkaian kegiatan berlanjut ke pembukaan resmi, peluncuran Buku Kartu Pos “Djocja,” penandatanganan sampul peringatan, hingga kunjungan pameran dan interaksi media.
Di antara agenda tersebut, Macapath Project tampil dalam dua sesi. Sesi pertama diisi kelompok dewasa pada pukul 12.00 WIB. Kemudian, disusul penampilan kelompok remaja. Keduanya membawakan tembang-tembang dengan nuansa tematik. Mulai dari suasana Idul Fitri hingga refleksi atas Hari Filateli Nasional. Bahkan, sejumlah tembang merupakan karya yang digubah sendiri oleh komunitas tersebut.
Penampilan itu menyedot perhatian pengunjung. Sebagian tampak berhenti sejenak dari aktivitas melihat koleksi prangko untuk menyimak lantunan macapat, sementara yang lain mengabadikan momen tersebut melalui gawai mereka.
Apresiasi juga datang dari Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon yang menyempatkan diri menyapa dan berfoto bersama para penampil. Hal serupa dilakukan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo yang turut memberikan perhatian pada keterlibatan komunitas tersebut.
Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Ismawati Retno mengatakan, kehadiran komunitas seperti Macapath Project menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian sastra tradisional.
Menurut Isma-sapaan akrab Ismawati Retno, pihaknya terus berkomitmen membuka ruang bagi tumbuh kembang aktivitas kebudayaan, khususnya di bidang sastra seperti macapat.
“Ruang-ruang ekspresi seperti ini penting agar generasi muda memiliki wadah untuk belajar, berproses, sekaligus tampil. Kami berupaya agar aktivitas pelestarian, terutama macapat, bisa terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.
Macapath Project sendiri merupakan komunitas budaya yang berdiri pada 2022 dan bermarkas di Omah Macapat, kawasan Wirogunan, Mergangsan. Komunitas ini didominasi generasi muda yang menaruh minat pada pengembangan macapat, karawitan, dan geguritan.
Salah satu pengurus, R. Jumiyo Siswopangarso, mengatakan, keterlibatan mereka dalam HFN menjadi bagian dari upaya memperluas ruang tampil sekaligus mengenalkan kembali tradisi macapat kepada publik yang lebih luas.
“Kami senang bisa hadir di acara ini. Harapannya, pengunjung mendapat pengalaman baru, terutama yang belum akrab dengan macapat,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan tradisi. Melalui komunitas ini, pihaknya berupaya membangun ruang belajar sekaligus praktik agar budaya Jawa tetap hidup di tengah perubahan zaman. (Heroe)





