Meirizal Teliti Inovasi Terapi Tekanan Negatif, Hadirkan Biaya Pengobatan Lebih Terjangkau
YOGYAKARTA – Perawatan luka masih menjadi tantangan besar dalam dunia kedokteran modern. Karena, karakteristik luka yang bervariasi dan hasil penyembuhan yang tidak selalu dapat diprediksi. Beban perawatan luka, terutama luka kronis, terus meningkat seiring dengan bertambahnya angka harapan hidup.
Studi menunjukkan, sekitar 3% penduduk usia di atas 65 tahun memiliki luka terbuka yang memerlukan perawatan. Luka kronis lebih sering ditemukan pada perempuan dan usia lanjut, dengan prevalensi 1,67 kasus per 1.000 penduduk. Jika dikaitkan dengan populasi Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 278 ribu kasus luka kronis yang menjadi beban sistem kesehatan nasional.
Vacuum Assisted Closure (VAC) yang sudah lama dikenalkan, terbukti efektif mempercepat penyembuhan. Namun, biayanya tinggi sehingga terbatas di negara berkembang seperti Indonesia. Meski banyak inovasi dilakukan, belum ada inovasi yang mendasar pada komponen utama VAC.
Kali ini, Mahasiswa Program Doktor Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Meirizal mengembangkan, inovasi terapi tekanan negatif atau Reverse Aqua Pump-Vacuum Assisted Closure (RAP-VAC) yang memunculkan solusi yang lebih murah dan efikasi yang setara dengan VAC komersial.
Dalam penelitian disertasinya yang berjudul “Perawatan Luka yang Ekonomis dan Efektif sebagai Proses Persiapan Cangkok Kulit Bedah Lanjut dengan Menggunakan Inovasi Reverse Aqua Pump–Vacuum Assisted Closure: Studi Klinis Acak Non-Inferioritas.” Ia menghadirkan solusi alternatif terapi luka yang lebih terjangkau tanpa mengurangi efektivitas klinis.
Pada Ujian Terbuka Promosi Doktor, Meirizal menyampaikan, penelitian ini dilatarbelakangi tingginya beban perawatan luka. Khususnya luka kompleks yang membutuhkan terapi tekanan negatif atau Vacuum Assisted Closure (VAC). Sementara biaya penggunaan VAC komersial masih menjadi kendala utama di negara berkembang seperti Indonesia.
“Kebutuhan terapi luka dengan VAC cukup tinggi, tetapi akses terhadap teknologi ini masih terbatas karena biaya. Karena itu, kami mengembangkan RAP-VAC sebagai alternatif yang lebih terjangkau namun tetap efektif secara klinis,” ujar Meirizal di Ruang Auditorium FK-KMK UGM Yogyakarta, Kamis (9/4/2026).
Melalui inovasi Reverse Aqua Pump–VAC (RAP-VAC), penelitian ini menggunakan desain uji klinis acak non-inferioritas untuk membandingkan efektivitas RAP-VAC dengan VAC komersial. Hasil penelitian menunjukkan, RAP-VAC memiliki efektivitas yang setara dengan metode konvensional.
Penelitian tersebut dilakukan di RSUP Dr. Sardjito, D.I. Yogyakarta pada instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap dan kamar operasi, Orthopaedi dan Traumatologi. Penelitian ini berlangsung selama 5 bulan dari April 2025 hinggga Agustus 2025.
Subjek penelitian adalah pasien dengan defek luka yang membutuhkan rekonstruksi lanjutan pada Sub Divisi Bedah Tangan dan Rekonstruksi Mikro dan dikumpulkan secara konsekutif dari instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, dan instalasi rawat darurat hingga jumlah sampel yang dibutuhkan terpenuhi.
Penelitian yang melibatkan 26 subjek yang memenuhi kriteria inklusi. Namun dua di antaranya tereksklusi, karena membutuhkan tindakan bedah lanjutan berupa flap rekonstruksi, sehingga total sampel yang dianalisis berjumlah 24 subjek.
“Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Reverse Aqua Pump-VAC (RAP- VAC) dan kelompok VAC komersial, masing-masing terdiri dari 12 pasien,” paparnya.
Dari hasil penelitian diketahui tidak terdapat perbedaan bermakna derajat granulasi luka antara pasien yang dirawat dengan RAP-VAC dan VAC komersial. Bahkan, tidak terdapat perbedaan bermakna pada durasi tunggu untuk rekonstruksi lanjutan antara RAP-VAC dan VAC komersial.
“Terdapat perbedaan bermakna pada status infeksi luka antara pasien yang dirawat dengan RAP-VAC dan VAC komersial. Namun tidak terdapat perbedaan bermakna pada tingkat kenyamanan pasien antara penggunaan RAP-VAC dan VAC komersial. Yang lebih penting, terdapat perbedaan signifikan pada biaya perawatan, di mana RAPVAC lebih rendah dibandingkan VAC komersial,” ungkapnya.
Menurutnya, RAP-VAC menghasilkan efek penyembuhan yang sama atau lebih baik dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan VAC komersial. Karena itu, RAP-VAC bisa dianggap sebagai alternatif terapi tekanan negatif yang lebih hemat biaya sekaligus non-inferior dalam efektivitas penyembuhan luka.
“Temuan kami menunjukkan, RAP-VAC tidak hanya setara secara efektivitas, tetapi juga jauh lebih efisien dari sisi biaya. Ini membuka peluang penerapan yang lebih luas, terutama di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan sumber daya,” tambah Meirizal.
Berdasarkan hasil tersebut, RAP-VAC dinilai berpotensi menjadi alternatif yang efektif dan efisien dalam perawatan luka kompleks, khususnya dalam persiapan cangkok kulit pada bedah rekonstruksi.
“Harapannya, inovasi ini dapat menjadi solusi aplikatif bagi pelayanan kesehatan di Indonesia, sehingga terapi luka yang optimal dapat diakses lebih luas oleh masyarakat,” pungkasnya.
Penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi ilmiah, tetapi juga berdampak nyata dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya di bidang bedah tangan dan rekonstruksi mikro. (Heroe)





