Kendaraan melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Bio disel B50.

Lebih Ramah Lingkungan, Biodiesel B50 Diyakini Mampu Perkuat Ketahanan Energi Indonesia

Nasional

JAKARTA – Peluncuran program biodiesel B50 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Kehadiran B50 tersebut penting sekali dalam rangka memutus mata rantai impor diesel dan merupakan inisiasi awal transisi energi dari fosil menuju renewable energy (energi baru terbarukan) yang lebih ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal.

Hal tersebut disampaikan Pengamat Energi Hadi Ismoyo di Jakarta, Sabtu (11/7/2026). Hadi yang juga Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) tersebut meneruskan,  demham hadirnya B50 tersebut, diharapkan bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Ini sekaligus mempercepat transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.

Baca juga :  Bukan Batasi Kreator Konten, Alasan Lahirnya Regulasi Financial Influencer

Ia menilai, pemanfaatan B50 tidak hanya memberikan manfaat dari sisi ketahanan energi. ”Lebih dari itu, kehadiran program tersebut mendukung agenda keberlanjutan,” tegasnya.

Menurutnya, dari sisi lingkungan, biodiesel memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Ini ditandai sejak dari proses produksi bahan baku biodiesel pada sektor hulu kelapa sawit menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan proses eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi.

Output penggunaan biodiesel menghasilkan jejak CO2 sekitar 50 hingga 60 persen lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Bahkan di beberapa negara maju, pengurangan emisinya dapat mencapai sekitar 80 persen dalam kondisi tertentu,” paparnya.

Meski begitu, Hadi menyebut keberhasilan implementasi B50 tersebut memerlukan dukungan tata kelola yang kuat dari hulu hingga hilir. Adapun salah satu tantangan utama adalah memastikan pengembangan perkebunan sawit dilakukan secara berkelanjutan agar tidak memicu deforestasi yang berlebihan.

Hadi melanjutkan, efisiensi industri pengolahan CPO di Pertamina perlu ditingkatkan melalui pemanfaatan limbah menjadi sumber energi. Limbah pabrik sawit bisa diolah menjadi biogas yang selanjutnya digunakan untuk menghasilkan listrik guna memenuhi kebutuhan operasional pabrik.

Ditambahkan Hadi, tantangan lain yang perlu mendapat perhatian adalah aspek logistik dan distribusi. Dengan kondisi geografis Indonesia yang luas, biaya logistik masih menjadi komponen signifikan dalam rantai pasok biodiesel. Karena itu, ia menyarankan agar ada upaya pengembangan sistem distribusi berbasis klaster yang terintegrasi dengan pusat konsumsi utama.

Di sisi lain, lanjut Hadi, sosialisasi kepada masyarakat dan pelaku industri juga harus dilakukan secara masif agar penggunaan biodiesel semakin diterima.

Menurut Hadi, setiap masukan terkait performa mesin perlu ditindaklanjuti melalui penelitian dan inovasi berkelanjutan. Ini termasuk pengembangan zat aditif yang mampu menjaga kinerja mesin tetap optimal.

Hadi meyakini, dengan dukungan teknologi, tata kelola yang baik, dan edukasi yang berkelanjutan, B50 bisa diterima secara luas serta memberikan manfaat besar bagi negara, masyarakat, dan lingkungan.(Heroe)

Bahan Bakar Minyak BBM biodiesel biodiesel B50 CO2 diesel emisi karbon energi energi baru terbarukan energi nasional fosil IATMI Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia impor kelapa sawit ketahanan mata rantai program renewable energy Sekretaris Jenderal transisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts