Tabungan Emas, Solusi Berinvestasi untuk Masa Depan
Sebuah rumah berhasil berdiri berkat produk Pegadaian. Ya, itulah rumah joglo saya di Tempel, Sleman, Yogyakarta saat ini. Memang, bukan keseluruhan dari Pegadaian, namun berkat salah satu produk Pegadaian yaitu cicilan emas, rumah berhasil berdiri dan bisa ditinggali.
Ceritanya begini, sekitar tahun 2007, sebagai sebuah wartawan muda di sebuah media cetak di Yogyakarta waktu itu, saya mulai mengenal, berinteraksi, dan menjadikan narasumber pimpinan Pegadaian Yogyakarta. Salah satunya dari Pegadaian Syariah, di antaranya Eka Sri Yuliani yang waktu itu memimpin sebuah cabang kecil di Jalan Kusumanegara.
Berkat ‘bujukan’ Mbak Eka- sebagian para wartawan ekonomi di Yogyakarta memanggil Eka Sri Yuliani, akhirnya saya ‘terpanggil’ untuk mencobanya, produk cicilan emas atau LM (logam mulia) sebagai produk yang mulai dikenalkan oleh Pegadaian Syariah.
Waktu berjalan, dan saya rutin mencicil sejumlah yang di Pegadaian Syariah sampai sejumlah gram tertentu. Tidak fantastis, tetapi bagi wartawan baru, tentulah angka gram itu cukup lumayan besar. Effort rutin tanpa lelah selama beberapa bulan berhasil mendapatkan LM, yang begitu diambil langsung disimpan. Tidak tahu peruntukannya. Bangga saja, memiliki LM, berkat disiplin rutin mencicil.
Tak terasa, berapa tahun berjalan dan waktu membangun rumah joglo, sempat tersendat karena biaya kurang. Di saat kebingungan untuk menyelesaikan rumah tersebut, teringat akan LM yang disimpan berapa tahun ini. Setelah mencari dan menemukannya, akhirnya membawa LM tersebut ke Pegadaian lagi. Saat itu diberi pilihan, mau melegonya atau mendapatkan pinjaman dan sebagai jaminannya adalah LM tersebut. Kuambillah pilihan pertama, dan alhamdulillah berhasil rumah berdiri dan menjadi tempat tinggal keluarga kami.
Ternyata, memang memiliki LM dari Pegadaian sangatlah menguntungkan, setidaknya saya sudah mengalami sendiri.
Memang, Pegadaian terus mengkampanyekan untuk memiliki cicilan emas dan tabungan emas karena banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan menabung emas. Sambil menabung, kita bisa sambil berinvestasi. Menabung emas pun dinilai lebih menguntungkan dibandingkan menabung uang, karena nilai emas tidak terpengaruh inflasi seperti halnya mata uang. Karena adanya inflasi, nominal uang yang Anda tabungkan bisa menurun jumlahnya. Berbeda jika Anda menabung emas, yang justru akan membuat nilainya bertambah.
Berkat memiliki emas mulia tersebut, ada pula tertangga yang tidak kesulitan dalam menyiapkan mahar pernikahannya. Ceritanya juga unik, waktu itu Asngari, nama tetangga di Tempel Sleman, mengaku galau untuk mempersiapkan masa depannya dengan kekasihnya. Apalagi sebagai swasta, penghasilannya tidak begitu besar. Padahal, dia diberi waktu setahun untuk segera melamarnya.
Teringat akan Pegadaian, yang memang selalu siap Mengatasi Masalah Tanpa Masalah, kusarankan untuk mencicil LM yang nantinya akan dipakai untuk mahar pernikahannya. Atas saran tersebut, Asngari senang mendapatkan solusi dan rajin menabung LM. Setelah kurang-lebih 12 bulan, akhirnya ‘netes’ dan LM hasil nabung bisa dijadikan mas kawin pernikahannya.
Beda cerita, namun pengalaman yang mirip dialami teman sekolah waktu SMA. Namanya Irma, perempuan asal Kecamatan Sawangan, Kabuapten Magelang, Jawa Tengah. Irma yang sudah berkeluarga dan tinggal di Semarang ini menceritakan pengalamannya dan teman-temannya yang membeli emas di Pegadaian yang ada di dekat rumahnya.
Menurutnya, membeli secara angsuran bisa dilakukan di cabang Pegadaian yang ada, baik Pegadaian Konvensional atau Pegadaian Syariah. “Pembayaran secara angsuran sesuai harga saat pertama akad. Jadi, meski harga emas naik saat proses berjalan, angsuran tidak ikut naik,” ungkapnya.
Bahkan, dia dengan komunitas ibu-ibu yang ada di kompleks perumahannya melakukan arisan LM. Dalam prosesnya, hampir sama dengan angsuran, hanya saja diikuti dalam satu kelompok, di mana satu kelompok maksimal delapan orang.
“Pada bulan pertama seluruh, peserta membayar uang muka alias DP (down payment). Selanjutnya, diangsur selama beberapa bulan sesuai banyaknya anggota arisan. Di sini, peserta membayar sesuai harga akad pertama. Sistem arisan banyak disukai ibu-ibu, karena seperti menabung dan saat lunas, harga emas sudah naik,” paparnya.
Irma menambahkan, Pegadaian juga menawarkan produk menabung emas. Polanya, seperti menabung pada umumnya, hanya saja nominal dana yang ditabungkan auto terkonversi dengan nilai emas. Misal, harga emas turun, emas milik kita tidak ikut berkurang. Apabila sudah cukup dana yang ada ditabungan tersebut untuk ditukar dengan emas fisik, langsung bisa ditukar di pegadaian tempat kita menabung.
“Saya dan teman-teman biasanya lebih menyukai yang model arisan emas. Kelompok kami, sudah beberapa kali ikut arisan emas tersebut. Para ibu-ibu banyak yangg ‘tuman’ dan ikut lagi. Justru, kalau ada kelompok atau banyak orang, saya menyarankan untuk arisan emas daripada menabung sendiri. Selain bisa saling menyemangati, juga arisannya punya nilai lebih, sembari berinvestasi,” katanya menyarankan.
Irma mendiskripsikan, arisan LM yang dilakukan kelompoknya. Pesertanya maksimal delapan orang untuk sekali putaran. Adapun perhitungann, pada bulan pertama, mereka membayar uang muka. Selanjutnya, pada bulan kedua hingga ke sembilan, mereka membayar angsuran.
“Jumlah nominal uang muka dan angsuran dihitung berdasarkan harga emas saat itu. Misal, emasnya 2 gram harga saat itu per gram Rp 1 juta, artinya harga 2 gram sama dengan Rp 2 juta. Nanti, pihak Pegadaian yang akan menghitungkan berapa uang muka dan berapa angsurannya. Misal, mulai akad tanggal 20 September 2024, bayar uang mukanya dilakukan saat itu juga. Angsuran arisan baru dimulai tanggal 20 pada bulan berikutnya, yang namanya keluar akan mendapat LM yang disepakati. Misal, ikut yang 2 gram, ya satu grup nanti tiap orang dapat 2 gram setiap bulan, setelah angsuran dibayarkan sampai angsuran selesai. Nah, untuk pelaksanaannya, nanti harus ditunjuk satu orang sebagai ketua penanggungjawab agar peserta displin membayar angsurannya. Lebih baik, saat akad kita bekerja sama dengan Pegadaian terdekat, agar mendapat penjelasan lebih komplit. Intinya dipandu dan dibantu,” bebernya.

Pimpinan Cabang Pegadaian Syariah Kusumanegara Yogyakarta Eka Sri Yuliani SE mengatakan, masyarakat sangat antusias terhadap produk Pegadaian untuk memiliki emas. Sejauh ini, dari kedua produk pilihan, baik cicilan emas maupun menabung emas berhasil mencapai target sampai September 2024. Namun, pihaknya akan berusaha memaksimalkan pendapatannya sampai akhir Desember 2024 mendatang. Pegadaian Syariah Kusumanegara melalui produk cicilan emas (MULIA) ditargetkan mencapai Rp 1,1 miliar dan sudah 109 persen melalui target. Adapun untuk produk tabungan emas, dari target 23.945 orang penabung sudah mencapai jumlah rekening sebesar 110 persen. Dengan begitu, target terlampau dan tinggal memaksimalkan penambahan keuntungan sampai akhir tahun 2024 ini.
“Produk Pegadaian sangatlah beragam dan kontribusi dari tabungan dan cicilan emas cukup signitikan. Kami memiliki produk lainnya, mulai dari gadai, pembiayaan, dan bisnis. Untuk gadai, juga banyak fiturnya. Intinya, khusus cicilan emas dan tabungan emas, kami mengajak masyarakat yang memiliki emas, jangan tergesa-gesa menjual emasnya. Ada produk gadai emas yang bisa dimanfaatkan nasabah, saat membutuhkan dana mendesak. Jadi, tidak harus menjual emasnya,” tegas Eka.
Pegadaian, lanjut Eka, memang terus mengupayakan untuk memperbesar jumlah nasabah dan gramasi dari emas yang dibidik nasabah. Ditegaskan Eka, melalui berbagai produk yang ada, tidaklah ingin menjerumuskan masyarakat, justru mengajak masyarakat untuk langsung dan mencermati program tabungan emas dan cicilan emas yang ditawarkan. Karena, ke depannya masyarakat akan mendapatkan keuntungan lebih, karena emas yang dimiliki nasabah merupakan investasi berharga dengan return yang menarik serta untuk memdapatkannya cukup mudah dan tidak harus memiliki pengetahuan lebih, dibanding berinvestasi saham, kripto, ataupun produk investasi lainnya.
Demikian juga untuk segmen yang disasar oleh Pegadaian, baik konvensional maupun syaraiah, adalah masyarakat segala segmen dan lapisan.
“Mereka yang sudah memiliki pendapatan tetap bisa bergabung untuk berinvestasi di sini. Demikian juga masyarakat di level menengah ke bawah, dengan penghasilan bulanan yang belum rutin, ada alternatif memulai dari dana kecil. Yang penting, nasabah diajak untuk disiplin menabung atau mencicil, dengan nilai yang ditetapkan sendiri. Ujung-ujungnya, nasabah akan diuntungkan setelah sekian waktu rutin melakukan pembayaran cicilan atau menabung dananya,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Departemen Business Support PT Pegadaian Kanwil XI Semarang Kuntaji SW menambahkan, minat masyarakat cenderung tinggi terhadap investasi emas. Ini terlihat dari kinerja saldo tabungan emas di Wilayah Kanwil Semarang yang terus naik signifikan, di mana kenaikan saldo tabungan emas sebesar 21.99 persen atau 1,1 ton yang memberi kontribusi 12 persen dari saldo se-Indonesia.
“Potensinya masih luas, melihat potensi dari kondisi ekonomi global di mana masyarakat disarankan berinvestasi dalam bentuk safe haven. Ini sejalah dengan visi Pegadaian, yakni meng-Emaskan Indonesia,” katanya.
Pihak Pegadaian sendiri, lanjut Kuntaji, terus melakukan edukasi dan literasi, serta didukung tren harga emas yang cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Hingga tahun 2024 ini, sudah mengalami kenaikan 20% dan tentunya hal tersebut sangat menarik bagi masyarakat yang ingin berinvestasi emas.
Bareng OJK dan Bank Sampah, Pegadaian Lakukan Literasi ke Masyarakat
Pegadaian terus melaksanakan strategi agar bisnis yang dijalankan berjalan bagus. Termasuk dalam melakukan edukasi dan literasi terhadap produk emas, baik tabungan atau cicilan emasnya. Program jangka panjang, strategi dalam literasi mengenai hal tersebut terus dilakukan Pegadaian.
Terbaru, Kanwil XI Semarang Pegadaian menggalakkan literasi dengan menghadirkan Agen Pegadaian yang dianggap sukses. Kali ini, literasi Agen Pegadaian diadakan Pegadaian Cabang Tugukulon di Bank Sampah Jantra, Sabtu (28/9/2024). Dalam kegiatan tersebut, penyelenggara menghadirkan salah satu agen terbaik Pegadaian Cabang Tugukulon, yakni Amirullah Moh Ali. Acara literasi tersebut juga diikuti masyarakat sekitar kantor Bank Sampah Jantra.
Pada kesempatan tersebut, Amirullah Moh Ali menyampaikan, literasi difokuskan untuk mengenalkan berbagai produk pegadaian, khususnya tabungan emas dan cicilan emas. “Tabungan emas bisa dilakukan dengan menyetor nilai terkecil sekalipun, bahkan dari uang receh yang dihasilkan dari menjual sampah,” ungkap Amir.
Diakui Amir, uang yang dihasilkan dari menjual sampah memang tidak seberapa. Namun, jika dilakukan terus-menerus, hasilnya akan luar biasa. Karena uang yang ditabungkan di tabungan emas langsung dikonversikan dalam bentuk emas. “Dari mengelola sampah kemudian bisa menjadi emas. Hal itu sejalan dengan tagline meng-Emaskan Indonesia,” paparnya.
Lebih lanjut dikatakan, keuntungan tabungan emas adalah bisa menyetor dengan hanya Rp 10.000 sudah bisa menabung emas, bisa dicetak emas batangan. “Saat memiliki tabungan emas, jika membutuhkan dana, tabungan emas tersebut bisa digadai dengan sewa modal yang lebih murah dibanding gadai biasa,” jelasnya.
Pegadaian juga memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi tanpa harus ke kantor. Selain transaksi secara digital melalui aplikasi Pegadaian Digital Services, juga bisa dilakukan di agen pegadaian.
“Keberadaan agen pegadaian untuk mendekatkan pelayanan ke masyarakat. Sebagai agen juga siap jemput bola memberikan pelayanan ke masyarakat atau nasabah,” kata Amirullah.
Eka Sri Yuliani SE, sebagai Pimpinan Cabang Pegadaian Syariah Kusumanegara Yogyakarta menambahkan, pola cross-selling dilakukan untuk menambah kinerja pegadaian yang dipimpinnya. Nasabah Pegadaian yang memiliki produk tabungan emas, ditawari untuk mencoba memiliki produk tersebut. Tenaga promosi dan pemasar Pegadaian agresif masuk semua segmen, baik level menengah bawah dan menengah atas. Termasuk gen Z atau kaum milineal yang baru memasuki dunia kerja.
“Para kaum muda adalah segmen yang kami garap dengan serius. Mereka yang memulai bekerja dan sudah mendapatkan gaji, kami edukasi dan diarahkan untuk memiliki tabungan emas atau cicilan emas,” katanya.
Eka meneruskan, Pegadaian juga ikut program literasi yang digagas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat bulan inklusi keuangan. Dengan melakukan literasi keuangan secara kontinyu, Pegadaian di Yogyakarta banyak mendapatkan nasabah baru.
“Beruntungnya, Pegadaian Syariah Kusumanegara yang kami pimpin berhasil berkontribusi sekitar Rp 3 miliar. Kami mempercayai segmen ini masih blue ocean, artinya ke depan potensinya masih besar dan kami akan terus mendorong peningkatan jumlah nasabah dan gramasi akan kepemilikan emas,” tegasnya.
Kuntaji SW, sebagai Kepala Departemen Business Support PT Pegadaian Kanwil XI Semarang menambahkan, strategi Pegadaian adalah dengan menggelar seminar dan literasi investasi, terutama menabung emas kepada masyarakat. Tidak hanya itu, pemberian berbagai program yang menarik juga dilakukan agar target yang dibebankan kepada PT Pegadaian Kanwil XI Semarang mampu diraih.
“Ada program cashback customer dan penawaran produk cross selling terhadap nasabah loyal menjadi strategi bisnis percepatan peningkatan saldo emas. Alhamdulillah, dari target sebesar 1 ton emas, ternyata bisa melampauinya, yakni berhasil menjual 1,1 ton emas. Memang, dari nasabah produk Tabungan emas ini, mampu menyumbang 18.9 persen dari keseluruhan produknya,” tegasnya.
Berinvertasi Emas, Masyarakat Dibuat Merasa Aman
Pegadaian Syariah Kusumanegara memang satu dari 12 cabang Pegadaian yang beroperasi di Yogyakarta. Sejauh ini, antusias masyarakat akan tabungan emas sangat tinggi. Tentu ini didukung oleh tingkat edukasi dan literasi dari masyarakat Yogyakarta yang sudah cukup bagus mengenai inklusi keuangan, termasuk soal investasi emas.
Eka memahami betul akan kondisi masyarakat Yogyakarta. Tingkat pendidikan yang cukup baik, membuat mudah dalam melakukan edukasi tabungan emas. Masyarakat cepat memahami dan tertarik, mengingat keuntungan yang bakal mereka peroleh. Berinvestasi dengan menyimpan emas lebih menguntungkan daripada menyimpan uang.
“Kami berikan fakta bagaimana nilai dari emas yang terus naik. Masyarakat saat mengetahui itu tentu tertarik. Bagi yang mengikuti sejak tahun 2013, saat itu masih di harga Rp 5 ribuan, per miligramnya, ternyata sekarang sudah di kisaran Rp 13 ribuan per miligramnya. Ada peningkatan nilai kurang lebih Rp 11.500 dalam waktu 10 – 11 tahun. Kelebihan lain dari memiliki tabungan emas, masyarakat memiliki cadangan dana darurat,” katanya.
Menariknya, pegadaian juga menawarkan tabungan digital, yakni melakukan transaksi emas dan memantau jumlah saldo gramasinya melalui aplikasi dari pegadaian. Cara ini, bagi generasi muda tentu lebih menyenangkan, selain ada faktor keamanannya. Pihak Pegadaian dengan nasabah akan berkurang tatap mukanya, dan semuanya cukup dilakukan dari rumah atau di manapun.
“Tidak harus ke Pegadaian setiap melakukan transaksi. Cukup dari rumah atau di mana saja. Nasabah cukup mencetak buku fisiknya di pegadaian terdekat saat ada waktu atau dalam waktu tertentu saja,” imbuh Eka.
Selain itu, ada Agen Pegadaian yang menjadi kepanjangan tangan dari pihak Pegadaian. Agen ini biasanya berada di sebuah komunitas atau kawasan atau dekat dengan tempat tinggal warga. Keberadaannya memudahkan nasabah untuk memanfaatkan jasanya, tanpa harus mendatangi kantor Pegadaian yang biasanya ada di kota.
Maraknya perekonomian digital menawarkan kemudahan bagi masyarakat Indonesia melakukan investasi emas. Bagaimananpun emas merupakan jenis investasi jangka panjang yang paling diminati masyarakat Indonesia muda.
Nurdin Adiyansah MPsi, Dosen Psikologi Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) Jakarta mengatakan, berinverstasi menumbuhkan rasa aman bagi orang melakukan investasi. Mereka, selain, mendapatkan kepastian masa depan, juga berharap mendapatkan keuntungan lebih pada masa depan. Emas merupakan salah satu pilihan berinvestasi yang rendah resiko dengan imbal keuntungan yang cukup bagus.
Nah, terkait dengan minat masyarakat memilih tabungan emas atau cicilan emas, Adin-sapaan akrab Nurdin Adiyansah melihat beberapa hal yang mempengaruhi nasabah mengambil keputusan pembelian. Yakni, faktor psikologis. Menyitir pendapat dari Pakar Perilaku Konsumen Mulyadi Nitisusastro, Adin menegaskan bahwa faktor psikologis memiliki peran besar dalam mempengaruhi konsumen untuk membuat keputusan. Menurutnya, pilihan pembelian seseorang juga dipengaruhi faktor psikologis yang utama, yakni sikap, proses belajar, persepsi, motivasi serta kepercayaan.
“Motivasi untuk mendapatkan keamanan masa depan adalah melakukan investasi. Dan dia percaya bahwa salah satu cara yang paling aman berinvestasi adalah memiliki emas,” ungkapnya.
Kemudian, pengamat psikologi ini melihat ada faktor lain yang ikut mempengaruhi. Yakni Faktor situasional dan faktor sosial. Factor situasional merupakan faktor yang mempengaruhi konsumen, di mana faktor ini merupakan suatu kejadian yang relatif singkat dan sederhana. “Kegiatan dari konsumen akan dipengaruhi berdasar pengaruh budaya dan kepribadiannya,” ujarnya.
Sementara, faktor sosial adalah kelompok referensi/acuan umumnya berupa individu atau kelompok nyata di mana memiliki pengaruh aspirasi, evaluasi, bahkan perilaku terhadap orang lain. Faktor sosial mempengaruhi masyarakat melalui norma, dan informasi yang beredar di sekelilingnya.
“Komunitas atau lingkungan dia berada mempengaruhi seseorang memilih berinvestasi emas. Makanya, ada para sosialita, ibu-ibu, kelompok pengajian, dan lainnya yang saling mempengaruhi untuk berinvestasi emas. Kalau ada satu yang sudah berinvestasi dan memiliki pengaruh atas kelompoknya sangat mudah untuk menularkannya,” tegasnya.
Tentu saja, bagi pegadaian dengan membidik komunitas, kelompok sosialita, kelompok penghobi, kelompok senam, pengajian ibu-ibu, dan lainnya merupakan segmen yang masih terbuka untuk menjadi target market ke depan. Semoga. (Heroe)





