Festival Sastra Yogyakarta 2025 Fasilitasi Dialog Penulis dan Penerbit

YOGYAKARTA – Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 menghadirkan program Temu Penerbit: Bersama Bentang Pustaka sebagai salah satu upaya memperkuat ekosistem literasi dan penerbitan di Tanah Air.
Acara ini digelar pada Kamis (31/7/2025) di Grha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, dan berlangsung selama tujuh jam, mulai pukul 14.00 hingga 21.00 WIB.
Program ini menjadi ruang interaktif bagi penulis, pembaca, dan pegiat literasi untuk memahami lebih dekat proses kerja dunia penerbitan profesional di Indonesia. Sebanyak 30 peserta mendaftarkan karya novel mereka, dan dari jumlah tersebut, 10 penulis terpilih untuk mengikuti sesi diskusi karya secara langsung.
Diskusi ini difasilitasi oleh Dyaz Infoly, penulis sekaligus editor, yang menggali potensi masing-masing naskah melalui pembacaan mendalam terhadap isi, visi, karakter, serta pendekatan tematik yang digunakan. Suasana diskusi berlangsung intens namun hangat, memberi ruang bagi setiap penulis untuk mempresentasikan gagasan cerita mereka secara lebih menyeluruh.
Temu Penerbit tidak hanya menjadi ajang pertemuan penulis dan penerbit, melainkan juga semacam laboratorium mini yang mengulas proses seleksi naskah, penyuntingan, strategi promosi, hingga tantangan distribusi buku di era digital. Perwakilan dari Bentang Pustaka turut memberikan pemaparan mendalam mengenai peran penerbit sebagai kurator narasi, serta dinamika relasi antara penulis dan penerbit dalam membangun ekosistem literasi yang sehat.
Selain sesi panel dan diskusi karya, program ini juga membuka forum tanya jawab yang diikuti dengan antusias oleh para peserta, baik dari kalangan penulis pemula maupun penulis independen. Mereka aktif menggali berbagai aspek teknis dan praktis dalam proses penerbitan, serta menjalin jejaring dengan para profesional di bidang literasi.
Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Ismawati Retno menyampaikan bahwa program ini menjadi wujud konkret komitmen pemerintah dalam mendorong tumbuhnya ekosistem sastra yang berkelanjutan.
“Festival ini tidak hanya memberi ruang apresiasi, tetapi juga memberdayakan. Dengan menghadirkan penerbit secara langsung, para penulis bisa memahami lanskap industri buku dari hulu ke hilir. Harapannya, akan lahir penulis-penulis baru yang tidak hanya kreatif, tetapi juga siap masuk ke dunia penerbitan dengan pemahaman yang matang,” ujarnya.
Melalui program ini, FSY 2025 menegaskan perannya sebagai platform penghubung antara ide-ide kreatif dan kanal-kanal penerbitan yang kredibel. Seleksi karya dan pendampingan editorial menjadi langkah awal dalam mendorong lahirnya penulis dari berbagai daerah, serta mendukung terciptanya industri literasi yang inklusif dan berdaya saing.(Heri)





