Sastra Surup Hadirkan Puisi Senja dan Panggung Mini di Festival Sastra Yogyakarta 2025

YOGYAKARTA – Sinar senja yang hangat menjadi latar bagi hadirnya suasana reflektif dalam program Panggung Surup: Sastra Surup, salah satu sajian unggulan di Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025, Jumat (1/8/2025). Bertempat di Panggung Teras, Taman Budaya Embung Giwangan, acara ini menghadirkan pembacaan puisi dan musikalisasi dalam suasana waktu surup—momen menjelang maghrib yang sarat makna dalam budaya Jawa.
Selama satu setengah jam, para penyair membacakan karya-karya bertema kerinduan, pengharapan, hingga pencarian makna hidup. Iringan musik akustik yang tenang memperkuat kedekatan emosional antara pembaca dan penonton.
Panggung Surup didesain sebagai ruang untuk berhenti sejenak. Di tengah hiruk-pikuk festival, dihadirkan momen hening agar kata dan rasa bisa disimak dengan jernih.
Panggung ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman estetik yang intim dan menyentuh sisi batin pengunjung. Momen senja dimanfaatkan sebagai medium untuk membangun suasana kontemplatif yang selaras dengan semangat sastra sebagai ruang perenungan, sebagaimana disampaikan oleh salah satu staf Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Budi Yanto.
Salah satu pengunjung, Putri Khairunnisa (20), mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengungkapkan kesan mendalam terhadap suasana yang dibangun di Panggung Surup.
“Dari tadi saya keliling area festival, tapi pas duduk di Panggung Surup, rasanya tenang sekali. Puisi-puisi yang dibacakan itu nggak sekadar indah—tapi menyentuh. Saya merasa seperti diajak ngobrol pelan-pelan oleh penyairnya, tentang hal-hal yang mungkin juga saya alami sendiri. Apalagi ditambah suasana senja dan suara musiknya yang lembut banget, bener-bener bikin merinding,” tuturnya.
Sebagai bagian dari aktivasi ruang publik yang lebih luas, FSY 2025 juga menghadirkan Mini Stage (Outdoor) di area luar Graha Budaya. Tepatnya di sekitar zona F&B. Panggung mini ini menjadi ruang bebas untuk berekspresi sastrawi melalui dua program utama: Poetry Jam dan Puisi Maghrib.

Pada sesi Puisi Maghrib, sejumlah penyair dari komunitas Tholo Akustik dan Perpustra tampil bergiliran membacakan puisi di tengah perubahan suasana sore menuju malam. Pembacaan yang berlangsung secara terbuka ini menarik perhatian pengunjung yang sedang menikmati suasana kuliner, sekaligus menjadi bentuk penyegaran dalam menghadirkan puisi secara lebih cair, hangat, dan akrab.
Melalui program-program seperti Sastra Surup dan Puisi Maghrib, FSY 2025 membuktikan sastra tidak hanya hidup di ruang-ruang diskusi dan forum formal, tetapi juga tumbuh bersama lanskap harian masyarakat—dalam senja, dalam sunyi, dan dalam jeda yang sederhana namun bermakna.(Heri)





