Pertunjukan Musik Puisi menjadi salah satu sajian penutup yang hangat dan memikat dalam rangkaian Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025, Minggu malam (3/8/2025).

Musik Puisi: Harmoni Kata dan Nada di Penutupan FSY 2025

Seputar Jogjakarta

 

YOGYAKARTA – Pertunjukan Musik Puisi menjadi salah satu sajian penutup yang hangat dan memikat dalam rangkaian Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025, Minggu malam (3/8/2025). Digelar pukul 19.30–21.30 WIB di Panggung Teras, Grha Budaya Embung Giwangan, acara ini memadukan puisi dan musik dalam satu panggung, menghadirkan pengalaman mendengar sastra yang segar, emosional, dan penuh daya magis.

Pertunjukan dibuka oleh Jaler Calief Java Prabowo dengan monolog reflektif yang ekspresif. Narasi yang lirih namun menyentuh menciptakan suasana perenungan di tengah keremangan malam, membuat penonton larut dalam kesyahduan.

Baca juga :  Panggung Surup Hadirkan Perpaduan Puisi dan Musik di Senja Yogyakarta

Suasana kemudian beralih ke penampilan Sasmita UNY, komunitas musik mahasiswa yang tampil dengan sejumlah karya ciptaan sendiri. Lagu “Dongeng Kematian” menawarkan nuansa kelam dan kontemplatif, disusul “Kuatrin Sebuah Poci” yang membawa penonton pada perjalanan metaforis tentang kenangan dan keabadian. Sementara lagu “Cinta, Aku Cinta Dia” menghadirkan suasana yang lebih romantis, tetap dibalut dalam nuansa puitik.

Dari UIN Sunan Kalijaga, Komunitas Sanggar Nun membawakan pembacaan “Syair Perahu” karya Syekh Hamzah Fansuri, berpadu dengan iringan musik modern. Perpaduan antara teks sufistik dan bunyi kontemporer menciptakan atmosfer spiritual yang lembut namun menggetarkan.

Sebagai penampil penutup, Jejak Imaji menghadirkan format kolaboratif khas mereka. Pertunjukan dibuka dengan pembacaan “Atas Kemerdekaan” karya Sapardi Djoko Damono, dilanjutkan dengan puisi-puisi lain yang dibawakan secara musikal bersama gitar dan biola. Getar kata dan nada berpadu menjadi satu pengalaman estetik yang tak hanya didengar, tetapi juga dirasakan.

“Sebelum perform, kami sempat merasa gugup karena banyak sekali teman-teman yang antusias menantikan musikalisasi puisi dari Jejak Imaji,” ujar Jeje, salah satu personel.

“Tapi begitu di atas panggung, semua rasa gugup kami ubah jadi energi untuk penonton. Aku sendiri jatuh cinta pada puisi sejak kelas 3 SMP saat membaca Hujan Bulan Juni. Sejak itu, puisi selalu punya tempat di hati.”

Penonton yang hadir menikmati setiap penampilan dengan khusyuk—dari anak-anak muda, mahasiswa, komunitas sastra, hingga wisatawan. Mereka duduk bersila di halaman rumput, menyatu dalam alur nada dan makna. Suasana yang akrab, meriah, dan hangat menutup hari kelima FSY 2025 dengan kesan mendalam.

Ismawati Retno, Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menyatakan, musik puisi adalah bentuk keberanian untuk menyeberangkan sastra ke medium yang lebih luas dan inklusif.

“Puisi tidak selalu harus dibaca dalam ruang hening. Ia bisa hidup bersama musik, tubuh, dan keramaian. Musik puisi menunjukkan bahwa sastra bisa hadir di ruang terbuka, bisa menyapa siapa saja, dan tetap menyimpan daya pikatnya,” ujarnya.

Menurut Ismawati, penampilan ini menjadi bukti bahwa ekspresi sastra tak lagi terbatas pada panggung formal atau lembaran buku, tetapi bisa hadir secara hidup, cair, dan merangkul lintas generasi.

Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025, melalui pertunjukan Musik Puisi, kembali menegaskan bahwa sastra adalah ruang lintas medium. Ia tak hanya menyimpan kata, tetapi juga membuka ruang kolaborasi, menghubungkan rasa, dan menyemai semangat berkarya bersama.(Heri)

Festival Sastra Yogyakarta FSY 2025 Grha Budaya Embung Giwangan Jaler Calief Java Prabowo komunitas musik mahasiswa Komunitas Sanggar Nun monolog reflektif musik Panggung Teras pertunjukan puisi Sasmita UNY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts