Tiga narasumber tampil dalam sesi diskusi, Saut Situmorang, Mahfud Ikhwan, dan Himas Nur, dengan Ni Made Purnama Sari sebagai moderator.

Nasib Sastrawan: Festival Sastra Yogyakarta 2025 Angkat Realitas dan Pergulatan Penulis Hari Ini

Seputar Jogjakarta

 

YOGYAKARTA – Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 menghadirkan diskusi penutup yang tajam dan menyentuh realitas bertajuk “Nasib Sastrawan”, Senin (4/8/2025), pukul 15.30–17.30 WIB di Panggung Pasar Sastra, Grha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan.

Tiga narasumber tampil dalam sesi ini: Saut Situmorang, Mahfud Ikhwan, dan Himas Nur, dengan Ni Made Purnama Sari sebagai moderator.

Baca juga :  Komunitas Sastra Menembus Batas: Diskusi “Susur Galur VI” Bahas Kolaborasi Lintas Negara

Diskusi ini menjadi ruang terbuka untuk membicarakan berbagai dimensi kehidupan sastrawan hari ini—mulai dari kondisi ekonomi, posisi sosial, hingga pergulatan identitas. Para narasumber membagikan pandangan personal sekaligus struktural tentang posisi sastrawan dalam lanskap budaya kontemporer Indonesia.

Penyair Saut Situmorang menegaskan bahwa posisi penyair sering kali berada di titik paling rentan dalam ekosistem sastra.

“Penyair adalah sastrawan yang paling miskin,” ujarnya.

Dengan nada satiris, ia menyentil minimnya perhatian institusional terhadap sastrawan. “Seenggaknya, kasihlah pajak untuk penyair—biar bisa diakui negara,” katanya.

Mahfud Ikhwan, yang dikenal sebagai novelis dan esais, memberikan pandangan dari sudut penulis prosa. Ia mengakui bahwa sangat sedikit sastrawan di Indonesia yang benar-benar bisa hidup layak dari karyanya.

“Kebanyakan sastrawan kita tidak hanya gagal secara pasar, tapi juga dalam menemukan sistem dukungan yang adil,” ungkapnya.

Ia menyinggung ketimpangan relasi antara penulis dan penerbit, serta tabu yang menyelimuti pembicaraan seputar upah, royalti, dan distribusi pendapatan. “Masalah ini nyata, tapi sering tidak dibicarakan,” tambahnya.

Sementara itu, Himas Nur membawa perspektif generasi muda yang lebih beragam. Ia mempertanyakan generalisasi dalam frasa “nasib sastrawan” yang sering luput mengakui perbedaan pengalaman berdasarkan usia, kelas sosial, hingga gender.

“Nasib sastrawan yang mana, nih? Karena faktanya, generasi sastrawan itu beragam,” ujarnya.

Ia menyoroti bagaimana banyak sastrawan muda, terutama perempuan dan nonbiner, menghadapi diskriminasi struktural dan harus bertahan hidup dengan pendapatan minim sambil terus berkarya. Menurut Himas, isu ini perlu terus dibicarakan karena belum menemukan solusi tuntas.

Diskusi yang dipandu oleh Ni Made Purnama Sari berlangsung terbuka dan dinamis. Sebagai moderator, ia memberi ruang luas bagi narasumber untuk menyampaikan pengalaman dan pandangan kritis, sekaligus membuka dialog dengan audiens. Beberapa peserta turut menyoroti pentingnya dukungan komunitas dan kelembagaan dalam membangun keberlanjutan karier sastra.

Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Ismawati Retno menyatakan, diskusi semacam ini penting untuk menjaga relevansi festival sastra dengan kenyataan di lapangan.

“Sastra bukan hanya soal estetika, tapi juga kehidupan yang dihidupi para penulisnya. Kita tidak bisa terus meromantisasi sastrawan tanpa membicarakan kesejahteraan mereka. Forum ini membuka ruang yang sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Ismawati menambahkan, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta berkomitmen untuk tidak hanya memberi ruang tampil bagi para penulis, tetapi juga memperkuat ekosistem literasi melalui dukungan terhadap komunitas dan jejaring kerja yang lebih adil.

Diskusi “Nasib Sastrawan” menjadi penutup yang menggugah dalam rangkaian Susur Galur FSY 2025. Lewat sesi ini, peserta diingatkan bahwa menjadi sastrawan bukan hanya soal menulis dengan indah, tetapi juga perjuangan ekonomi, sosial, dan politik yang melekat dalam kehidupan nyata sehari-hari. (Heroe)

budaya diskusi penutup Festival Sastra Yogyakarta FSY 2025 Grha Budaya Himas Nur Indonesia kehidupan kondisi ekonomi kontemporer lanskap Mahfud Ikhwan Nasib Sastrawan Panggung Pasar Sastra pergulatan identitas posisi sosial sastrawan Saut Situmorang Taman Budaya Embung Giwangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts