Bank Indonesia Ungkap Aliran Modal Asing dari Pasar Keuangan Domestik sebesar Rp 7,71 Triliun
JAKARTA – Aliran modal asing keluar bersih dari pasar keuangan domestik sebesar Rp 7,71 triliun. Ini muncul pada minggu kedua di bulan Januari 2026. Angka tersebut muncul dari catatan Bank Indonesia (BI).
Tidak hanya itu, tekanan juga terjadi pada pasar Surat Berharga Negara. Menariknya, kejadian sebaliknya terjadi di pasar saham, di mana bursa masih mencatat arus dana masuk.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, pihaknya merinci terdapat modal asing keluar bersih di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masing-masing sebesar Rp 8,15 triliun dan Rp 2,64 triliun.
Hanya, ada modal asing masuk bersih di pasar saham sebesar Rp 3,08 triliun. Dengan begitu, pasar keuangan domestik membukukan aliran modal asing keluar bersih sebesar Rp7,71 triliun.
Sejak awal tahun 2026 ini hingga 14 Januari 2026, modal asing masuk bersih di pasar SRBI (Ownership of Bank Indonesia Rupiah Securities) dan saham masing-masing sebesar Rp 5,33 triliun dan Rp 6,16 triliun. Sedangkan modal asing keluar bersih di pasar SBN (Surat Berharga Negara) sebesar Rp9,91 triliun.
Premi risiko investasi (credit default swaps/CDS) Indonesia 5 tahun tercatat naik dari 69,31 basis poin (bps) per 9 Januari 2026 menjadi 71,43 bps per 14 Januari 2026.
Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis di level Rp16.840 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (15/1/2026), dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan Rabu (14/1/2026) yang berada di level Rp16.855 per dolar AS.
Adapun indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah ke level 99,06 pada akhir perdagangan Rabu (14/1/2026).
DXY merupakan indeks yang menunjukkan pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang negara utama lainnya yakni euro, yen Jepang, pound Inggris, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss. Imbal hasil atau yield SBN 10 tahun naik ke level 6,23 persen pada Kamis (15/1/2026) dibandingkan Rabu (14/1/2026) yang berada pada level 6,21 persen.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury Note 10 tahun turun ke level 4,132 persen pada akhir perdagangan Rabu (14/1/2026).
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” tutup Ramdan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (15/1/2026). (Heroe)





