Yuliantor, penulis lepas, muhibbin, yang juga alumni Sosiologi UGM Yogyakarta.

Simtuddurror, Cinta yang Menggerakkan Dunia

Nasional Opini

Refleksi Haul Solo Habib Ali Al Habsyi

Oleh: Yuliantoro* 

Even tahunan bulan Rabiul Akhir, Solo menjadi samudra manusia. Jutaan umat Islam—habaib, kiai, ustadz, pejabat, santri, dan rakyat jelata —berduyun-duyun menuju Masjid Ar-Riyadh Gurawan, Pasar Kliwon. Mereka datang bukan karena panggilan organisasi, melainkan karena getaran cinta.

Cinta kepada Allah, kepada Rasulullah SAW, dan kepada seorang waliyullah yang telah menyalakan lentera kasih di hati umat – Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, penulis kitab Maulid Simtuddurror.

Baca juga :  Solusi Alternatif: Implementasi MBG Gaya Baru Berbasis Sekolah dan UMKM Lokal

Pada 12–13 Oktober 2025, Haul ke-114 Habib Ali kembali mengguncang ruang spiritual Nusantara. Dari penjuru Indonesia bahkan mancanegara, manusia datang dan duduk bersila di jalan-jalan, di emperan toko, di kampung-kampung sekitar Pasar Kliwon. Tidak ada sekat sosial. Kiai besar, Habaib duduk di samping buruh, pejabat berbaur dengan rakyat kecil. Semua larut dalam dzikir, shalawat, dan air mata rindu kepada Rasulullah SAW.

Majelis yang Menghidupkan Ruh Bangsa

Haul Solo tahun 2025 ini menghadirkan banyak tokoh, Habib Umar bin Hafidz dari Hadramaut—ulama besar penghafal Al-Qur’an dan ribuan hadits—Habib Hasan bin Alwi bin Ali Al-Habsyi (cicit Habib Ali), Habib Taufiq Assegaf (Ketua Rabithah Alawiyah), Habib Jindan, Habib Hasan Baharun, KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha’), KH Muhammad Abdurrahman Kautsar (Gus Kautsar PP Al Falah Ploso Kediri), Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, LC., M.A (Gus Reza), KH Wafi Maimoen, Gus Miftah, Gus Idham, Habib Umar Muthohar, hingga tokoh nasional seperti Anies Baswedan, Nusron Wahid, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan KH Taj Yasin, putra KH Maimoen Zubair.

Namun inti haul bukanlah kehadiran para tokoh tersebut, melainkan perjumpaan spiritual umat. Seperti diungkap KH Taj Yasin, “Jutaan orang ini tidak mungkin datang kalau bukan karena digerakkan Allah. Mereka datang karena cinta kepada Habib Ali, dan karena Habib Ali mencintai Rasulullah SAW.”

Cinta itu menular, dan menembus batas zaman. Di tengah dunia yang bising oleh kepentingan, Haul Solo menjadi oase kesunyian yang menenteramkan jiwa. Sebuah ruang spiritual yang memulihkan harapan bangsa.

Habib Ali – Akhlak yang Menjadi Teladan

Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi lahir di Seiwun, Hadramaut, Yaman. Sejak kecil ia menempuh jalan ilmu dan zuhud. Ia hafal Al-Qur’an, menguasai ratusan kitab hadits, tafsir, dan fiqih. Namun kebesarannya bukan terletak pada hafalan, melainkan pada akhlak dan pengamalan.

Ia hidup sederhana, puasa hampir setiap hari, dan menjadikan seluruh hartanya sebagai jalan dakwah. Ketika musim paceklik melanda Hadramaut, ia membagikan makanan untuk seluruh penduduk kota. Sementara keluarganya makan sekadarnya, ia memastikan tetangga tidak kelaparan. Itulah wajah sejati seorang ulama – menjadikan ilmu dan cinta kepada Allah sebagai sumber empati sosial.

Habib Ali juga dikenal sangat menghormati gurunya, Habib Abu Bakar al-Athas. Dari hubungan guru-murid itulah lahir Simtuddurror, sebuah kitab maulid yang menebar cahaya cinta Nabi di seluruh dunia Islam. Kitab ini dibaca di Yaman, Mekkah, Mesir, Afrika Timur, dan Asia Tenggara—termasuk di Indonesia—sebagai teks suci yang menghidupkan hati dan menuntun umat mencintai Rasulullah.

Majelis Cinta, Jalan Ilmu, dan Kesetaraan

Haul dan pembacaan Simtuddurror di Solo bukan sekadar tradisi. Ia adalah pendidikan akhlak massal. Setiap lantunan shalawat adalah latihan spiritual untuk membersihkan hati. Setiap kisah manaqib Habib Ali adalah pelajaran moral tentang kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang. Majelis ini mengingatkan bahwa Islam sejati tidak berhenti pada simbol dan slogan, tetapi tumbuh dalam perilaku sehari-hari.

Dalam majelis itu, tidak ada perbedaan kelas. Ulama, pejabat, dan rakyat jelata duduk sejajar. Semua memohon rahmat dan syafaat yang sama. Di hadapan Allah, semua setara. Inilah makna terdalam dari haul – pembebasan dari ego dan kedudukan, menuju kesadaran bahwa yang paling mulia di sisi Allah hanyalah yang paling mulia di sisi Allah hanyalah yang paling bertakwa.

Haul Solo mengajarkan satu prinsip sederhana namun agung – siapa yang hidup dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, ia tidak akan kehilangan arah hidup. Cinta itu menumbuhkan etos kerja, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Ia menjadikan hidup tidak hanya berorientasi pada dunia, tetapi juga pada kebahagiaan abadi di akhirat.

Dalam masyarakat modern yang cenderung materialistik, tradisi haul adalah pengingat bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari harta dan jabatan, melainkan dari manfaat dan ketulusan. Habib Ali meneladankan keseimbangan antara ilmu, amal, dan kasih—tiga pilar yang melahirkan kebahagiaan hakiki.

Namun haul sebesar ini juga menuntut kewaspadaan. Di era komersialisasi dan politik simbolik, kemurnian spiritual mudah tergelincir menjadi tontonan massal. Karena itu, menjaga kesucian majelis menjadi tugas moral bersama. Panitia, jamaah, dan pemerintah daerah harus memastikan bahwa acara semacam ini tetap berpijak pada nilai-nilai ibadah, ilmu, dan pelayanan sosial.

Haul bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi gerakan kebajikan yang berkelanjutan—melahirkan aksi nyata – sedekah, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan penanaman akhlak di tengah masyarakat.

Dari sini, spiritualitas tidak berhenti di masjid, tetapi mengalir ke pasar, sekolah, dan rumah-rumah umat.

Cinta yang Tak Pernah Padam

Haul Habib Ali Al-Habsyi telah melintasi lebih dari seabad, namun semangatnya tak pernah redup. Cinta yang memancar dari figur waliyullah itu terus menyalakan cahaya di hati umat. Ia menjadi bukti bahwa akhlak mulia, ilmu, dan kasih sayang memiliki daya gerak yang melampaui ruang dan waktu.

Dari Solo, cahaya itu menyinari Indonesia—mengajarkan bahwa kebesaran sejati lahir dari ketulusan, bahwa ilmu harus disertai kasih, dan bahwa cinta kepada Rasulullah SAW adalah sumber kekuatan umat menuju sukses dunia dan akhirat. (****)

*Penulis adalah penulis lepas, muhibbin, yang juga alumni Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Catatan kaki:

  1. Simtuddurror, lengkapnya Kitab Maulid Simtudduror, adalah kitab yang berisi syair dan kisah tentang kehidupan serta akhlak Nabi Muhammad SAW.
  2. Muhibbin Adalah pencinta Rasulullah SAW dan pencinta ulama Habaib.
air mata Allah dzikir Even tahunan getaran cinta habaib Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi Habib Umar bin Hafidz Hadramaut kiai kitab lentera kasih manusia Masjid Ar-Riyadh Gurawan Maulid Simtuddurror Nusantara Pasar Kliwon pejabat penghafal Al-Qur’an penulis Rabiul Akhir rakyat jelata Rasulullah SAW rindu samudra santri shalawat Solo spiritual ulama besar ustadz waliyullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts