Kisah Rayyan Shahab Raih 15 Kampus Top Dunia
Usia 17 Tahun, Ahmad Ali Rayyan Shahab Sukses Tembus 15 Kampus Top Dunia— Tanpa Kursus Bahasa Inggris
JAKARTA – Raihlah mimpi sejak dini. Kalimat itu yang mungkin pas disematkan pada Ahmad Ali Rayyan Shahab, siswa MAN Insan Cendikia Pekalongan (ICP). Pada tahun 2026 ini, Rayyan, demikian dia akrab disapa meraih 15 Letter of Acceptance (LoA). Ini adalah surat resmi dari universitas yang menyatakan pelamar diterima sebagai mahasiswa.
Ke-15 LoA tersebut tersebar di enam negara. Mulai dari Amerika, Kanada, Inggris, Belanda, Selandia Baru, hingga Australia. Kampus-nya dan jurusannya pun sangat bergensi, sebagian masuk TOP 10 dan 50 Dunia.
Beberapa di antaranya University Of California, San Diego (UCSD), untuk jurusan Geoscience, University of California, Davis – Environmental Engineering, University of British Columbia – Bachelor of Applied Engineering, University of British Columbia – Bachelor of Sustainability, University of Toronto – Physical and Environmental Science, University of Waterloo – Honours Environmental Engineering, Co-op , McGill University – Bachelor of Engineering in Bioresource Engineering, Wageningen University & Research – BSc Environmental Science, University of Manchester – Environmental Science, dan University of Auckland – Bachelor of Science in Environmental Science.
Lantas bagaimana Rayyan meraih itu semua? Dalam obrolan santai dengannya, Rayyan memberikan resep, tips, trik, dan strategi. Menurutnya, pencapaian ini tentu bukan ‘bim salabim,’
“Sejak kecil saya dimotivasi oleh orang tua untuk go global. Diajak nonton di TV atau internet tentang dunia luar. Dibacain atau suruh baca tentang dunia luar. Saya takjub. Hal ini seakan terpatri, saya harus meraih cita-cita untuk go globalm” ungkap pria kelahiran Jakarta, 17 tahun silam ini, beberapa waktu lalu.
Rayyan melanjutkan, sejak SD orang tuanya sering mengatakan: ‘Abahmu dari Sumenep. Saat lulus SMA senangnya minta ampun bisa kuliah di PTN UNS Solo. Umikmu dari Palembang, bahagia bisa lulus masuk UI. Rayyan harus lebih baik dari abah dan Umik, lolos di kampus Top dunia.’
Pesan tersebut memacu dirinya untuk bisa lebih baik dari orang tuanya. Dorongan yang kuat ini menjadikan Rayyan belajar bahasa inggris secara otodidak.

”Saya tidak pernah kursus, hanya dari belajar di sekolah, baca buku, nonton, dengerin musik dan berani bicara berbahasa inggris,” ungkapnya.
Keinginan ‘go global’ Rayyan wujudkan saat duduk kelas XI di MAN IC Pekalongan dengan mengikuti pertukaran pelajar (Program AFS) selama 10 bulan ke Finlandia. Di sana, Rayyan hidup bersama keluarga angkat, belajar di sekolah bertaraf internasional, dan berteman dengan siswa yang berasal dari berbagai negara.
“Di Finland, saya merasakan dan belajar banyak hal. Termasuk bagaimana sistem pendidikan dan tips untuk bisa lolos di Perguruan Tinggi Luar Negeri (PTLN). Alhamdulillah, secara akademik guru di Finland memberikan apresiasi dan rekomendasi. Begitu di kegiatan non-akademik, banyak hal yang saya dapatkan. Khususnya tentang ilmu dan teknik lingkungan. Seperti pengelolaan sampah, air, dan lainnya,” paparnya.
Saat kembali ke Indonesia, semangat bisa kuliah di luar negeri terus membara. Rayyan mencari informasi, hadir di sejumlah event pameran pendidikan, diskusi dengan keluarga dan rekan orang tuanya yang memiliki pengalaman studi luar negeri, serta mempersiapkan diri melihat jadwal pendaftaran masing-masing kampus yang dituju.
“Bersama Umik dan Abah, saya terus berdiskusi. Saya konsisten dengan jurusan yang saya suka, teknik, dan ilmu lingkungan di sejumlah kampus terbaik dunia. Sejak akhir tahun, saya sudah ikut tes IELTS dan SAT sebagai salah satu bekal dan modal penting. Disamping terus berlatih menulis ‘motivation letter’ yang membumi,” ujar Rayyan penuh semangat.
Rayyan menilai, kampus-kampus top di luar negeri sebagian besar tidak hanya menilai prestasi akademik dan kemampuan bahasa inggris. Namun, yang tak kalah pentingnya apa yang telah dilakukan, kontribusi apa yang diberikan, bagimana menuangkan ide besar, dan bagaimana bisa bekerja sama dengan tim.
Di luar sekolah, Rayyan aktif di alumni AFS. Bahkan menjadi ketua angkatan. Dia juga aktif di beberapa organisasi kepemudaan tentang lingkungan. Seperti, Green Generation dan Greenfaith. Sementara di internal sekolah, dia menjadi co-founder organisasi tentang lingkungan.
“Saya bersama teman-teman mendirikan organisasi Atma Bawana tentang pengelolaan sampah di sekolah berasrama. Alhamdulillah, banyak teman dan adik-adik kelas yang terlibat dengan penuh semangat. Dukungan dari Ustadz Khairul Anam sebagai kepala MAN ICP dan guru sangat berarti. Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkot Pekalongan yang mengetahui aksi ini memberikan apresiasi. Semua ini ‘dilaporkan’ dalam proses seleksi masuk PTLN,” imbuh Rayyan.
Di samping itu, Rayyan mengaku sejak kecil rajin menulis sehingga beberapa artikelnya, baik saat di Finland maupun setelah kembali ke Indonesia cukup menghiasi media.
Dia juga membuat blog sendiri, https://saveearth.id/ . Konsentrasi pada tema lingkungan, pernah menjadikan Rayyan tampil sebagai di forum ilmiah internasional di Jakarta.
“Hal-hal seperti ini juga dimonitor oleh pihak kampus di luar negeri saat mereka melakukan seleksi penerimaan calon mahasiswa baru,” tambah anak pertama dari lima bersaudara.
Di luar jalur bumi, Rayyan mengaku usaha melalui jalur langit terus dimunajatkan, khususnya doa orang tuanya.
“Umik dan Abah selalu mengingatkan untuk selalu berdoa, lebih-lebih saat puasa. Juga minta doakan ke nenek dan kakek, om, tante, dan keluarga. Kalau ada keluarga, kerabat, atau kenalan yang umroh, selalu minta sambung doa agar bisa lolos PTLN. Karena memang, kita tidak bisa abai terhadap kekuatan diluar diri kita,” tegasnya.

Alhasil, resep, trik, tips, dan strategi untuk bisa lolos dan mendapatkan LoA dari PTLN, menurut Rayyan adalah, pertama, punya mimpi dan semangat mewujudkan mimpi itu dengan belajar, berkegiatan, dan berdoa.
Kedua, persiapkan kemampuan bahasa inggris diatas rata-rata, pun kemampuan skolastik melalui test SAT (Scholastic Assessment Test) sebagai standart tes internasional.
Ketiga, punya passion pada keilmuan tertentu secara konsisten dan itu diwujudkan dalam pengetahuan, organisasi, dan aksi nyata. Tentu akan lebih baik lagi kalau memiliki riwayat akademik, misalnya memenangkan olimpiade tingkat nasional mata pelajaran tertentu.
Ke empat, memiliki kemampuan menulis untuk menuangkan pengalaman dan ide. Dan kelima, ikuti dan patuh pada orang tua serta berpasrah diri kepada Tuhan. Ditanya tentang kampus mana yang akan dipilih dari 15 LoA yang sudah diterima, Rayyan berharap yang terbaik.
Saat ini, Rayyan mengajukan beasiswa LPDP Garuda dan berharap lolos sehingga mimpinya untuk bisa menempuh pendidikan di kampus terbaik dunia untuk selanjutnya ilmu dan pengetahuannya bisa diaplikasikan untuk bangsa dan negara Indonesia bisa terwujud. Bagi Rayyan, mimpi bukan untuk ditunggu, tapi dikejar sejak dini. (Heroe)





