Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 kembali menghadirkan sesi reflektif dan inspiratif melalui diskusi panel bertajuk “Komunitas & Produktivitas”.

Komunitas sebagai Ruang Produktif: Diskusi “Susur Galur II” Tekankan Peran Kolektif dalam Ekosistem Sastra

Seputar Jogjakarta

 

YOGYAKARTA – Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 kembali menghadirkan sesi reflektif dan inspiratif melalui diskusi panel bertajuk “Komunitas & Produktivitas”. Acara yang menjadi bagian dari program “Susur Galur II” ini digelar pada Sabtu (2/8/2025), pukul 15.30–17.30 WIB, di Panggung Pasar Sastra, Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan.

Tiga perwakilan komunitas literasi aktif di Yogyakarta tampil sebagai narasumber, yakni Risen Dhawuh Abdullah (Jejak Imaji), Aljas Sahni H. (Komunitas Kutub), dan Dhea Jhoty Putri (Radio Buku).

Baca juga :  Rampak dalam Suara dan Cahaya: Pembukaan Festival Sastra Yogyakarta 2025 Rayakan Akar dan Ekspresi Puisi

Diskusi dipandu oleh Doel Rohim, yang mengarahkan percakapan pada dinamika komunitas sastra masa kini melalui pengalaman langsung para pelaku.

“Para narasumber hari ini memiliki pengalaman tangan pertama tentang bagaimana komunitas tumbuh, bertahan, dan tetap produktif di tengah berbagai tantangan. Mereka memahami betul kekuatan, keterbatasan, peluang, hingga tekanan yang dihadapi komunitas mereka masing-masing,” ujar Doel mengawali diskusi.

Risen Dhawuh Abdullah memaparkan awal mula berdirinya Jejak Imaji pada 2012, yang berangkat dari keresahan sejumlah mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta terhadap minimnya ruang ekspresi kreatif di kampus. Diskusi mingguan yang awalnya diadakan di kamar kos kemudian berkembang menjadi forum tetap bernama Jejak Imaji, yang kini rutin menggelar pertemuan setiap Minggu pagi di Banguntapan, Bantul.

Sementara itu, Dhea Jhoty Putri menjelaskan, Radio Buku bermula dari kegiatan siaran di Angkringan Buku. Kemudian, tumbuh menjadi komunitas literasi berbasis audio-arsip.

“Kami tidak hanya memproduksi podcast dan dokumentasi literasi, tetapi juga menggelar klub menonton dua kali seminggu sebagai upaya memperluas medium berbagi,” ujar Dhea.

Dari komunitas Kutub, Aljas Sahni H. menekankan akar pesantren yang kuat dalam kegiatan mereka.

“Di tengah kajian keagamaan, kami menggelar kajian sastra setiap Kamis malam. Santri bisa mendekati sastra dan berpikir kritis tanpa harus meninggalkan tradisi keilmuan Islam,” ungkapnya.

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, seniman, hingga akademisi. Mereka terlibat aktif dalam membahas isu keberlanjutan komunitas, pengaruh algoritma media sosial terhadap distribusi karya, hingga strategi menjaga semangat kolektif di tengah tekanan ekonomi.

Pamong Budaya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Dwi Lestari menyatakan, komunitas sastra saat ini memainkan peran vital dalam menjaga denyut literasi di tengah masyarakat.

“Komunitas bukan hanya tempat berkumpul, tapi ruang produktif yang membentuk ekosistem sastra secara berkelanjutan. Melalui konsistensi pertemuan, kerja kolaboratif, dan solidaritas antaranggota, komunitas menciptakan kebudayaan literasi yang hidup,” ujarnya.

Program “Susur Galur II” tidak sekadar menjadi ajang berbagi praktik baik, tetapi juga ruang untuk menegaskan, produktivitas dalam komunitas tidak selalu diukur dari banyaknya karya. Kehadiran, keberlanjutan, dan keberanian menjangkau ranah baru menjadi indikator penting lain dalam hidup-matinya sebuah komunitas sastra.

Melalui sesi ini, Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 kembali menggarisbawahi bahwa komunitas adalah fondasi utama dalam ekosistem sastra. Sastra bukan sekadar teks, melainkan tindakan budaya yang terus tumbuh melalui jaringan, interaksi, dan ruang-ruang kolektif yang diperbarui oleh semangat zaman.(Heri)

diskusi panel Festival Sastra Yogyakarta FSY 2025 Grha Budaya inspiratif Jejak Imaji Komunitas Kutub Komunitas Komunitas & Produktivitas literasi Panggung Pasar Sastra Radio Buku reflektif Susur Galur II Taman Budaya Embung Giwangan UAD Yogyakarta Universitas Ahmad Dahlan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts