Diskusi panel bertajuk "Susur Galur I: Sejarah Komunitas Sastra di Yogyakarta" menjadi salah satu sesi reflektif dalam rangkaian Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025.

Susur Galur Komunitas Sastra Hadirkan Dialog Lintas Generasi

Seputar Jogjakarta

 

Menelusuri Akar Komunitas Sastra di Yogyakarta

YOGYAKARTA – Diskusi panel bertajuk “Susur Galur I: Sejarah Komunitas Sastra di Yogyakarta” menjadi salah satu sesi reflektif dalam rangkaian Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025. Acara ini berlangsung pada Sabtu (2/8/2025) di Panggung Pasar Sastra, Grha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, dan mengajak peserta menyelami kembali jejak sejarah serta dinamika komunitas sastra yang telah lama tumbuh sebagai bagian penting dari lanskap budaya Kota Yogyakarta.

Dua tokoh penting dihadirkan dalam diskusi ini: Asef Saeful Anwar dan Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, dengan moderator Prima Sulistya. Ketiganya mengulas komunitas sastra bukan hanya sebagai ruang kreatif, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan, solidaritas, dan artikulasi kegelisahan generasi.

Baca juga :  Merawat Literasi Lewat Komunitas di Balik Etalase Buku

Asef Saeful Anwar membuka diskusi dengan menyoroti bagaimana komunitas sastra lahir dari situasi sosial-politik pasca-1950-an.

“Komunitas sastra Persada sejatinya lahir dari para pemuda yang bosan dengan benturan ideologis antara kubu merah dan putih. Mereka berkumpul di Malioboro, bertemu seorang figur, dan dari kegelisahan itu, lahirlah puisi,” katanya.

Asef Saeful menambahkan, sejak 16 Januari 1959, para pemuda di komunitas tersebut memanjangkan rambut gondrong sebagai bentuk perlawanan terhadap stigma sosial.

“Mereka ingin menunjukkan bahwa gondrong bukan berarti nakal. Sastra saat itu adalah bentuk pergerakan,” ujarnya. Media massa, lanjut Asef Saeful, menjadi sarana penting untuk menyebarkan gagasan dan membina anak-anak muda dalam dunia literasi.

Menanggapi pernyataan tersebut, Prof. Suminto A. Sayuti mengisahkan pengalamannya bergabung dengan Persada Studi Klub (PSK) pada akhir 1974 saat duduk di bangku kelas 3 SMA.

“Saya diberi koran mingguan Pelopor Jogja, dan dari situlah saya tertarik untuk ikut gabung. Waktu itu, komunitas selalu bersama dan punya ideologi. Apa yang dikatakan Mas Asef benar—komunitas tumbuh sebagai ruang solidaritas dan kesadaran,” ujar Prof. Suminto.

Prof. Minto menegaskan, PSK merupakan komunitas sastra dan seni yang didirikan pada 1969 oleh Umbu Landu Paranggi. Komunitas ini menjadi wadah penting bagi seniman muda untuk berkarya dan berdiskusi secara kolektif.

“Akar komunitas itu sudah lama tertanam, bahkan sejak tradisi bebrayan dan paguyuban. Komunitas bukan hal baru di Jawa,” katanya.

Diskusi yang berlangsung selama dua jam itu dihadiri puluhan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, akademisi, hingga pegiat komunitas dan pengunjung umum. Atmosfer diskusi terasa hangat, dengan pertukaran gagasan yang intens. Beberapa peserta turut berbagi pengalaman membangun komunitas sastra di kota lain, menciptakan ruang lintas wilayah yang memperkaya dialog.

Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Ismawati Retno menyebut, sesi Susur Galur dirancang sebagai upaya pemetaan kultural atas perjalanan komunitas sastra di Yogyakarta yang selama ini sering hidup dalam narasi-narasi lisan.

“Diskusi ini penting bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga membaca ulang peran komunitas sastra sebagai penjaga api literasi kolektif. Festival ini menjadi ruang yang menghubungkan lintasan sejarah dengan semangat generasi hari ini,” ujarnya.

Melalui sesi ini, FSY 2025 menegaskan, komunitas sastra bukan semata ruang berkumpul atau membaca puisi, melainkan simpul budaya yang menghidupi ekosistem sastra dari akar. Dengan membuka ruang dialog lintas generasi, festival ini menunjukkan bagaimana jejak komunitas sastra dapat menjadi penanda arah bagi masa depan literasi yang inklusif, partisipatif, dan hidup dalam keseharian masyarakat.(Heroe)

artikulasi diskusi panel Embung Giwangan Festival Sastra Yogyakarta FSY 2025 Grha Budaya Taman Budaya kegelisahan generasi komunitas sastra Panggung Pasar Sastra perlawanan Persada Studi Klub PSK ruang kreatif Sejarah Komunitas Sastra solidaritas Susur Galur I

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts