Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 memasuki hari keempat penyelenggaraan dengan menghadirkan diskusi panel “Susur Galur III: Komunitas Kampus dalam Pusaran Akademis, Aktivis, dan Kreatif?” di Panggung Pasar Sastra, Taman Budaya Embung Giwangan.

Komunitas Sastra Kampus dalam Pusaran Akademik, Aktivisme, dan Kreativitas

Seputar Jogjakarta

 

YOGYAKARTA – Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 memasuki hari keempat penyelenggaraan dengan menghadirkan diskusi panel “Susur Galur III: Komunitas Kampus dalam Pusaran Akademis, Aktivis, dan Kreatif?” di Panggung Pasar Sastra, Taman Budaya Embung Giwangan, Minggu (3/8/2025), pukul 13.00–15.00 WIB.

Sesi ini menghadirkan perwakilan komunitas sastra mahasiswa dari tiga perguruan tinggi di Yogyakarta: M. Rizqy Fathurrohman (Sastra UNY), Valentino S. (Bengkel Sastra Universitas Sanata Dharma), dan Kyla (Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia – UGM). Diskusi berlangsung dalam suasana reflektif dan egaliter, membedah peran komunitas sastra kampus dalam lanskap budaya dan intelektual kontemporer.

Baca juga :  Komunitas sebagai Ruang Produktif: Diskusi “Susur Galur II” Tekankan Peran Kolektif dalam Ekosistem Sastra

Dalam pemaparannya, Kyla menjelaskan, KMSI UGM merupakan himpunan mahasiswa berbasis akademik yang juga aktif di bidang seni dan budaya.

“KMSI itu struktural karena kami himpunan mahasiswa, tapi di dalamnya ada banyak ruang bebas. Kami punya perpustakaan mini, forum buku, dan juga advokasi untuk kesejahteraan mahasiswa,” ujar Kyla.

Kyla menekankan, komunitas sastra kampus bukan hanya tempat membicarakan puisi dan prosa, tetapi juga menjadi ruang saling jaga dan perjuangan kolektif.

Sementara itu, M. Rizqy Fathurrohman dari UNY menyebut komunitas sastra di kampusnya terbentuk secara nonformal namun tetap terhubung dengan institusi.

“Kami jadi ruang alternatif untuk membahas sastra di luar kelas. Masih mendapat dana karena di bawah KMPSI UNY,” katanya.

Salah satu divisi aktif, SUSASTRA, dikenal produktif dalam mendiskusikan karya sastra dari berbagai medium, termasuk digital.

“Kami terbiasa membedah habis karya yang sedang viral, baik dari sisi ide maupun cara penyampaiannya,” ujarnya.

Adapun Valentino S. dari Bengkel Sastra Universitas Sanata Dharma menuturkan, komunitasnya berkembang secara organik dan minim struktur.

Ngumpulnya biasa di kantin. Enggak ada rapat resmi, tapi tetap jalan dan punya ritme,” katanya.

Meskipun berada di bawah program studi, Bengkel Sastra tetap menjaga semangat otonomi kreatif. Sejak berdiri pada 1999, komunitas ini secara rutin menggelar agenda apresiasi dan diskusi sastra setiap bulan.

Diskusi juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi komunitas sastra mahasiswa saat ini, seperti keterbatasan ruang ekspresi, dinamika relasi dengan birokrasi kampus, hingga regenerasi anggota. Ketiga narasumber sepakat bahwa penting untuk menjaga otonomi komunitas dan membangun ruang aman yang memungkinkan ekspresi bebas dan pertumbuhan intelektual.

“Komunitas kampus hari ini tidak bisa dilepaskan dari tarik-menarik antara akademisi, aktivisme, dan ekspresi kreatif,” ujar moderator dalam penutup diskusi.

Ia menambahkan, ketiganya bukan hal yang harus dipertentangkan, melainkan justru bisa disinergikan untuk memperkuat peran komunitas sebagai ruang produksi wacana, solidaritas, dan kebudayaan.

Pamong Budaya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Dian Korprianing Nugraha menilai, diskusi ini penting untuk mengungkap dinamika khas komunitas sastra kampus yang berada dalam medan antara formalitas akademik dan gerakan kebudayaan akar rumput.

“Komunitas kampus adalah salah satu simpul penting gerakan literasi di kota ini. Di dalamnya, kita bisa melihat bagaimana kreativitas muda tumbuh dan merespons zaman dengan caranya sendiri,” ujarnya.

Melalui sesi Susur Galur III, Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 kembali menegaskan, kampus bukan sekadar ruang belajar formal, tetapi juga ladang tumbuhnya imajinasi, kritik, dan kekuatan kolektif yang mampu menjawab tantangan zaman—di persimpangan antara teori dan praktik, idealisme dan kenyataan, teks dan aksi.(Heri)

Bengkel Sastra Universitas Sanata Dharma budaya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta diskusi panel Festival Sastra Yogyakarta FSY 2025 intelektual kontemporer Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia Komunitas Kampus komunitas sastra mahasiswa Panggung Pasar Sastra Sastra UNY Susur Galur Taman Budaya Embung Giwangan UGM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts