AOKI Takenobu: MBG Belum Bisa Dievaluasi, Butuh Minimal Setahun Program Berjalan Dulu
MALANG – Guna memperkuat analisa sosiologis pada studi-studi Kebijakan Sosial, Program Studi Magister Sosiologi Direktorat Program Pasca Sarjana (DPPS) UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) kembali menyelenggarakan Kuliah Pakar. Kali ini, tema yang diangkat Adalah “Lesson Learned from Kyuushoku: Makan Bergizi Sekolah (MBS) Model Jepang”.
Kegiatan akademik ini diselenggarakan Selasa (30/9/2025) secara online. Adapun pesertanya adalah 40 orang dari mahasiswa pasca sarjana UMM serta para peminat dan pengkaji sosiologi se-Indonesia.
Pembicara kegiatan ini Adalah AOKI Takenobu, Ph. D, Visiting Profesor dari Chiba University, Jepang. Pakar Antropologi budaya dan sekaligus Indonesianis ini, lama meneliti fenomena sosial-budaya, agama, dan pendidikan baik di Jepang maupun Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, Rachmad K.Dwi Susilo, Ph.D, sebagai Ketua Program Studi Magister Sosiologi menyatakan, sosiolog harus harus memberi sumbang sih berupa solusi untuk mengatasi permasalahan MBG yang marak akhir-akhir ini. Dengan membandingkan dengan best practice dari Kyuushoku, masyarakat Indonesia mampu mengambil inspirasi dari Jepang yang bisa diadopsi dalam kebijakan sosial di Indonesia. Terlebih, hari ini pemerintah terlihat harus ”banyak” berbenah untuk menutupi kekurangan-kekurangan implementasi kebijakan dan maraknya tanggapan negatif publik atas program MBG.
Sementara itu, AOKI menyatakan, antara pelaksana Kyuushoku dan Makan Bergizi Gratis (MBG) harus sama-sama saling belajar. Maka, jangan menyamakan MBG dengan Kyuushoku yang sudah lama dilaksanakan di Jepang (1806) di Era Shogun Edo.
Selain itu, lanjut AOKI, secara antropologis, tiap negara dan daerah memiliki kondisi sosiokultural yang tidak sama.
Ditambahkan AOKI, hal yang cukup membedakan dengan MBG, di Jepang dilakukan dengan pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Selain itu program ini tidak gratis dan di Jepang sarat penanaman kedisiplinan, pengetahuan mengenai gizi, dan kekompakan sebagai pembelajaran siswa.
Suhermawan, Mahasiswa Magister Sosiologi UMM mengajukan pertanyaan, apakah menurut Prof. AOKI, program MBG di Indonesia sudah berhasil? AOKI menanggapi bahwa ia belum tahu karena perlu penelitian. Selama ini, data yang diperoleh dan digunakan hanyalah dari media massa dan media sosial. Menurut AOKI, pemberitaan media menyatakan bahwa program ini belum sesuai keinginan. “Kita tidak bisa mengevaluasi kebijakan MBG karena program belum genap setahun,” tegas Antropolog yang fasih berbahasa Indonesia ini.
Menurutnya, evaluasi kebijakan bisa dilaksanakan setelah setahun atau dua tahun. Tambahnya, ia masih optimistis program MBG akan berhasil.
”Saya lihat baiknya Masyarakat Indonesia lebih berani dalam melaksanakan program atau kebijakan baru, sekalipun kadang ada yang tidak berhasil. Negara lain sangat hati-hati, kuatir kalau program tidak berhasil yang akhirnya waktu terlewat. Masyarakat Indonesia dengan tanpa memikirkan panjang-panjang berani mengambil keputusan. Ini hal yang bagus. Yang terpenting selanjutnya dilakukan evaluasi dan perbaikan-perbaikan,” imbuhnya.(Heroe)





