Universitas Muhammadiyah Malang menggelar Program Kuliah Pakar.
Kampus

Melalui Kuliah Pakar, Magister Sosiologi UMM Mengkritisi Governmentality Pemerintah Indonesia Hari Ini

MALANG – Komitmen untuk memperkuat analisa sosiologis pada studi-studi Kebijakan Publik dan Teori-Teori Sosiologi Postrukturalisme selalu diutamakan. Karenanya, Program Studi Magister Sosiologi Direktorat Program Pasca Sarjana (DPPS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan Kuliah Pakar bagi mahasiswa Program Pascasarjana UMM. Kali ini, tema yang diangkat adalah “Governmentality dan Kebijakan Publik dalam Sosiologi Politik di Indonesia.”

Para peserta Kuliah Pakar yang dilakukan secara online.
Kampus

AOKI Takenobu: MBG Belum Bisa Dievaluasi, Butuh Minimal Setahun Program Berjalan Dulu

MALANG – Guna memperkuat analisa sosiologis pada studi-studi Kebijakan Sosial, Program Studi Magister Sosiologi Direktorat Program Pasca Sarjana (DPPS) UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) kembali menyelenggarakan Kuliah Pakar. Kali ini, tema yang diangkat Adalah “Lesson Learned from Kyuushoku: Makan Bergizi Sekolah (MBS) Model Jepang”. Kegiatan akademik ini diselenggarakan Selasa (30/9/2025) secara online. Adapun pesertanya adalah 40

Penulis (kanan) berdiskusi dengan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Magelang MS Kurniawan, ST, MT di shelter Kawasan Ngesengan.
Opini

Bisakah Ngesengan Sebagai Titik Keramaian Baru Kota?

oleh: Rachmad K. Dwi Susilo, MA, Ph.D KUNJUNGAN penulis ke Kota Magelang pada tanggal 13 sampai dengan 15 Oktober 2023 menyisakan pengalaman dan sekaligus pembelajaran yang menarik. Penulis rencanakan dari Kota Malang untuk mengunjungi shelter kawasan Ngesengan yang hari ini sedang proses revitalisasi. Penulis memang bukan ahli teknik sipil atau ilmu bangunan, tetapi melihat kawasan

Penulis saat melaksanakan kerja fasilitator.
Opini

Fasilitator Pada Pemberdayaan Sebuah Pendekatan Kultural

A. Tentang Pemberdayaan di Indonesia Kita masuk pada sistem di mana pemberdayaan sebagai salah satu “panglima” di dalam pembangunan. Banyak pemberdayaan yang telah dilaksanakan oleh para pengambil kebijakan  yang  berhasil, namun juga tidak sedikit yang “mubazir” yang sama artinya pemberdayaan berakhir dengan capaian yang belum jelas. Pada kasus pemberdayaan petani di sekitar hutan di Randubelatung,