Rachmad K. Dwi Susilo Phd.

Cenderung Top Down, Program Makan Bergizi Gratis Butuh Pendekatan Sosio- Kultural

Kampus

MALANG – Sosiolog dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Rachmad K. Dwi Susilo Phd mengatakan, pendekatan dalam MBG (Makan Bergizi Gratis) cenderung top down. Ini terlihat melalui bekerjanya Badan Gizi Nasional (BGN). Menurutnya, pendekatan top down akan benturan dengan spirit desentralisasi. Di sisi lain, kekurangannya adalah tidak memaksimalkan potensi-potensi lokal sebagai sasaran program.

“Padahal, demokrasi berbasis lokalitas sudah dilembagakan setidak-tidaknya sejak gerakan reformasi 1998.  Situasi anomie ini membenturkan banyak aktor yang berbeda lini dan berbeda kepentingan pada kesemrawutan program. Kita akui, kebijakan ini tidak melewati agenda setting yang memadahi, sehingga banyak kelemahan muncul akibat tata kelola (governance) yang tidak efektif,” kritik Rachmad yang juga Ketua Program Studi Magister Sosiologi UMM ini, Selasa (30/9/2025).

Baca juga :  AOKI Takenobu: MBG Belum Bisa Dievaluasi, Butuh Minimal Setahun Program Berjalan Dulu

Rachmad yang mempelajari Public Policy dan Social Governance dari Hosei University, Jepang ini meneruskan, sosiolog tidak tabu bicara MBG. Pria asal Magelang ini menegaskan, membicarakan soal program MBG dari pemerintah Prabowo tersebut, sama halnya dengan mengkaji ilmu-ilmu sosial, kebijakan, dan eksakta lain.

Namun, mantan Tenaga Ahli Pemerintah Kota Magelang ini mengingatkan bahwa  analisa kebijakan tidak boleh meninggalkan analisa sosiologi. Selain itu, mengutip konsep Imajinasi Sosiologis dari Sosiolog besar C.Wright Mills, sosiolog dibekali komitmen dan analisa kritis terhadap ketidaksetaraan sosial yang terstruktur. Di sinilah, menurutnya analisa implementasi kebijakan tidak boleh kaku dan harus terbuka modifikasi dan perbaikan.

“Kini butuh analisa potensi sosial sebagai materi agenda setting perumusan kembali dan implementasi kebijakan MBG. Potensi sosio-kultural seperti nilai-nilai dan norma masyarakat dalam institusi sekolah perlu dimanfaatkan. Selain itu harus diperhatikan pola makan siswa sebagai kebiasaan dan perilaku sosial terpola. Termasuk, dalam hal ini pengambil kebijakan secara regional harus melakukan pemetaan dan literasi pangan lokal masuk dalam analisa potensi sosial” papar Rachmad.

Diskusi pada Kuliah Pakar yang bertemakan “Lesson Learned from Kyuushoku: Makan Bergizi Sekolah (MBS) Model Jepang” tersebut diselenggarakan Program Studi Magister Sosiologi Direktorat Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (30/9/2025) secara online.

Kuliah Pakar tersebut menghadirkan AOKI Takenobu, Ph.D, Antropolog Budaya dan Visiting Profesor dari Chiba University.  Sebanyak 40 mahasiswa pasca sarjana UMM serta para peminat dan pengkaji sosiologi se-Indonesia mengikuti kuliah pakar tersebut.(Heroe)

anomie Badan Gizi Nasional BGN governance lokalitas Magister Sosiologi Makan Bergizi Gratis MBG potensi lokal program studi sosiolog tata Kelola top down UMM Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts