Tiba Bersua X Palmerah, Yuk!: Menyusuri Kotagede, Menyulam Kisah Literasi Pagi

YOGYAKARTA – Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 mengawali hari ke empat dengan semangat kebersamaan lewat program Tiba Bersua X – Palmerah,Yuk! yang digelar Minggu pagi (3/8/2025) pukul 07.00–09.00 WIB.
Bertempat di area luar Pasar Sastra, Taman Budaya Embung Giwangan sebagai titik kumpul, kegiatan ini menjadi ruang temu lintas komunitas yang santai, terbuka, dan penuh narasi personal—membawa nuansa pagi yang ringan namun bermakna.
Kali ini, Tiba Bersua berkolaborasi dengan @palmerah.yuk, komunitas literasi dan penerbitan independen yang dikenal atas pendekatan kolektif dan pengarsipan alternatif. Kegiatan dimulai dengan pembagian dua kloter berjalan, masing-masing terdiri dari 25 orang peserta. Setiap kloter dipandu menyusuri ruas jalan kota menuju Kotagede, kawasan bersejarah yang menyimpan jejak tradisi dan literasi lokal.
Sebelum memulai rute, peserta dari tiap kloter saling memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama, asal daerah, serta buku favorit mereka. Momen ini membentuk ikatan awal antarpartisipan, menjadikan langkah-langkah selanjutnya terasa lebih akrab. Sepanjang perjalanan menyusuri Jalan Tegal Gendu menuju Kotagede, suasana dialog terus terbangun. Obrolan tentang buku, komunitas, hingga kehidupan literasi sehari-hari mengalir alami, menyatu dengan ritme pagi kota.
Dalam perjalanan, peserta berhenti di beberapa titik bersejarah dan kultural. Mereka sempat singgah di Palang Merah Indonesia (PMI) dan Toko Buku Nathan—yang menjadi lokasi sesi foto bersama. Perjalanan berlanjut ke kompleks Masjid Gedhe Mataram, tempat peserta diajak menengok sejarah Islam dan sastra lokal. Tak jauh dari sana, rombongan menyempatkan melihat Sendang Seliran, sebuah mata air yang menjadi tempat pelaksanaan tradisi nawu (merendam pusaka), yang hingga kini masih dijaga masyarakat.
Rangkaian ini bukan hanya wisata sastra, melainkan juga bentuk belajar bersama dalam lanskap kota. Kolaborasi dengan Palmerah membuka ruang eksplorasi yang membumi: memahami kota bukan hanya lewat bangunan dan jalur, tapi melalui jejak-jejak literasi dan budaya yang melekat di dalamnya.

Setelah walking tour, para peserta diajak mengemas pengalaman mereka menjadi konten naratif bersama jurnalis Tribun Jogja dalam sesi pelatihan singkat di Panggung Pasar Sastra, dengan narasumber @kriesdinar. Suasana yang terbentuk begitu hangat dan egaliter.
Program ini sekaligus membuktikan bahwa sastra tidak selalu harus dibicarakan di ruang formal. Ia bisa lahir di jalanan, di bawah pohon, di sela-sela tawa dan cerita ringan. Melalui kegiatan ini, Festival Sastra Yogyakarta 2025 memperlihatkan bahwa literasi bukan semata kegiatan membaca, tetapi juga merayakan pertemuan, menghidupkan kota, dan menyulam koneksi antar insan.
Menanggapi kegiatan ini, Ismawati Retno, Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, menyampaikan bahwa “Sastra dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dan di mana saja—di jalanan, di ruang publik, di tengah kota yang terus bergerak. Seluruh ruang kota adalah potensi bagi lahirnya narasi dan refleksi.” Menurutnya, pendekatan semacam ini penting untuk membumikan sastra, agar semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.(Heroe)





