Pasar Lawas Mataram, Ketika Warga Pulang ke Masa Kerajaan

Oleh: Yuliantoro*
Empat abad silam, Ki Gede Pemanahan membabat Alas Mentaok dan mendirikan pasar pertama di Kotagede. Dari pasar sederhana itu, lahirlah denyut Kerajaan Mataram Islam.
Kini, denyut yang sama kembali bergaung dalam Pasar Lawas Mataram 2025—bukti bahwa sebuah kota besar selalu bertumpu pada keramaian pasar rakyat.
Sejarah panjang Kotagede selalu berawal dari pasar. Pada 1570-an, hadiah dari Sultan Hadiwijaya Pajang itu diubah Ki Gede Pemanahan menjadi pemukiman. Ia sadar, kota tak hanya berdiri di atas sawah dan rumah. Pasarlah yang menjadi pusat kehidupan, tempat orang berkumpul, berdagang, dan berinteraksi. Dari titik itu pula lahir denyut Mataram Islam di bawah Panembahan Senapati.
Ingatan sejarah inilah yang melahirkan Pasar Lawas Mataram. “Halaman masjid dulu pernah jadi pasar darurat di zaman penjajahan. Kami ingin menghidupkan kembali memori itu sambil menggerakkan ekonomi warga,” ujar Gono Santosa, penggagas sekaligus Lurah Jagalan periode 2016 – 2023, baru-baru ini.
Bukan Sekadar Jual-Beli
Penyelenggaraan tahun 2025 ini, 26–28 September 2025, menjadi edisi ke enam sejak Pasar Lawas digelar pertama kali pada 2018. Meski sempat vakum dua tahun akibat pandemi, semangat warga tak surut. Semua pedagang harus warga Jagalan, dengan aturan sederhana, harga maksimal Rp10 ribu dan semua penjual berkostum tradisional Jawa.

Meski murah, perputaran uang bisa mencapai miliaran rupiah. “Pasar ini bukan hanya nostalgia, tapi panggung kebersamaan. Guyub rukun, tanpa sekat priyayi atau rakyat kecil,” tutur Muhammad Fauzan Baihaqi, Ketua Panitia.
Pengunjung bisa mencicipi puluhan kuliner khas yang mulai jarang ditemui di meja modern. Seperti, jenang gempol, kontol kejepit (tolpit), endok abang, geplak gereh, jadah manten, wedang rempah uwuh, hingga sayur lodeh dan gudeg. Semua diracik dengan resep lawas turun-temurun, disajikan dengan cara tradisional dengan daun pisang dan jati.
Filosofi Jawa dalam Riuh Pasar
Tema tahun 2025 ini, Kebak Tanpa Luber, menyimpan filosofi Jawa yang dalam. “Kami ingin masyarakat belajar menjaga keseimbangan, memanfaatkan potensi seoptimal mungkin, tanpa berlebihan, agar manfaatnya bisa dirasakan semua,” jelas Agus Podhang, salah satu pendiri.
Konsep ini sejalan dengan nilai hamemayu hayuning bawana—upaya menjaga harmoni semesta. Menurut antropolog Koentjaraningrat, pasar tradisional dalam kebudayaan Jawa bukan sekadar arena ekonomi, melainkan “ruang sosial” yang merekatkan hubungan antarwarga. Pasar Lawas Mataram adalah cerminan nyata gagasan itu.
Magnet Wisata Budaya
Sejak pertama kali digelar, Pasar Lawas menjadi magnet wisata budaya. Ribuan orang dari berbagai kota di DIY dan sekitarnya datang. Bagi sebagian pengunjung, ia adalah nostalgia. Bagi generasi muda, ia adalah kelas sejarah terbuka.

“Saya merasa seperti diajak kembali ke jaman kerajaan. Suasananya benar-benar beda, penuh makna,” kata Wulan, mahasiswa asal Sleman.
Tidak heran, bila acara ini masuk kalender wisata budaya DIY.
Menurut catatan Dinas Pariwisata Bantul, event semacam ini memberi dampak ganda yaitu melestarikan warisan budaya sekaligus memperkuat ekonomi kreatif lokal.
Merayakan Sejarah, Menata Masa Depan
Lebih jauh, Pasar Lawas adalah contoh bagaimana sebuah desa merayakan sejarahnya sambil menata masa depan. Bukan sekadar romantisme, melainkan strategi kebudayaan.
“Pasar ini bukti bahwa ekonomi rakyat bisa kokoh bila ditopang akar budaya,” tegas Fauzan.
Dalam tiga hari penyelenggaraan, halaman Masjid Besar Mataram Jagalan Banguntapan bukan hanya lokasi jualan. Ia menjadi panggung kolektif, di mana tari rakyat, musik tradisional, dan kerajinan tangan menemukan ruang hidupnya kembali.
Pasar Lawas Mataram mengingatkan kita bahwa denyut kehidupan sejati sebuah kota tidak terletak pada pusat perbelanjaan modern, melainkan pada ruang-ruang sederhana tempat warga bertemu, berbagi, dan bergembira. (****)
*Penulis, adalah seorang jurnalis yang juga alumnus sosiologi Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta





