Bantulku Malang, mBantul Tersayang
Awal tahun 2022, saya berkesempatan keliling daerah Yogyakarta; meliputi kota Yogya, Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Gunung Kidul. Meskipun sudah merantau sejak lepas SMA, saya tetap sering pulang. Tahun lalu saja saya bisa pulang ke rumah sebanyak 6 kali, meski tidak menginap karena alasan Pandemi Covid-19.
Lama memang saya tidak keliling Bantul, kota yang terkenal dengan makanan Geplaknya itu. Waktu saya keliling itu sempat kaget. Mengapa? Karena di Bantul sekarang sudah banyak berdiri café. Kata anak muda sekarang, café – saya menyebutkan warung makan — yang “instagramable”. Karena mereka tidak saja menikmati manakan dan minuman café tetapi apa yang dilakukannya bisa didokumentasikan. Tidak itu saja, didokumentasikan lagi dipamerkan melalui instagram atau media sosial lainnya.
Tak heran, jika untuk mengetahui potensi suatu daerah, termasuk makanan dan minuman café, cukup bermodalkan gadget. Semua informasi yang ingin diketahui bisa disediakan. Anda tidak tahu arah? Tidak mengaktifkan google map akan dipandu oleh suara perempuan dalam aplikasi.
Yang Untung yang Buntung
Pertanyaan saya, mengapa di Bantul sekarang banyak café? Saya menduga karena di Sleman sudah banyak café. Sudah penuh sesak. Bisa jadi investasi café di Sleman sudah sangat mahal. Lalu banyaklah yang melirik ke Bantul. Bukan tanpa alasan. Bantul juga menjadi tujuan wisata. Di Bantul sekarang berjejer pantai-pantai baru – itu juga terjadi di Gunung Kidul. Tak kurang ada 30-an pantai di Bantul.
Bantul dengan tenaga magis pantainya menjadi tempat tujuan wisawatan. Selain menikmati alam, mereka juga tak akan memandang sebelah mata tempat kuliner. Coba cek saja. Jika Anda mau merencanakan liburan maka tempat kuliner menjadi pilihan yang tak bisa dihindari.
Kasus di atas tentu akan disahuti oleh mereka yang memanfaatkan peluang. Mereka yang punya uang tinggal membeli tanah, lalu mendirikan tempat kuliner tadi. Kemudian dipublikasikan melalui media sosial. Maka semua akan menjadi lebih mudah. Teknologi telah membuat manusia semakin kreatif – meskipun kadang memandang sebelah mata dampak negatifnya.
Itulah setidaknya yang bisa saya amati saat saya keliling Yogya awal tahun 2022. Sesuatu yang sebenarnya sudah ada dan terjadi, tetapi saya baru sadar kemarin saat keliling ke 4 daerah di wilayah bekas alas (hutan) Mentaok tersebut.
Atas perkembangan sebagaimana saya ceritakan di awal warga Bantul tentu senang. Saya yang perantau ikut senang pula. Daerah di mana saya lahir menjadi ramai. Daerah itu menjadi tempat tujuan banyak orang. Orang Bantul akan dengan bangga mengatakan berasal dari daerah Bantul. Karena Bantul mulai dikenal.
Dulu, saat saya ditanya orang darimana asalnya, saya menjawab Yogya. Mengapa? Karena menjawab Bantul banyak orang tak tahu. Atau kalaupun dijawab harus dua kali. Menjawab dari Bantul. Jika ditanyakan daerah mana itu? Baru menyebut Yogyakarta. Hampir sama dengan orang Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar ditanya daerah. Umumnya akan menyebut Solo, bukan tiga daerah itu.
Pekerjaan Rumah
Saya kemudian punya pemikiran usil. Ekspansi atau tepatnya pendirian banyak café juga tempat wisata akan atau telah diikuti konversi lahan. Sebelumnya konversi lahan hanya untuk perumahan. Saat ini di Bantul pun konversi lahan perumahan tidak menjadi surut.
Tentu saja harga tanah akan semakin mahal. Tidak masalah karena itu menuruti hukum pasar, bukan? Yang menjadi permasalah penting adalah apakah mereka yang menjadi investor sudah berpikir dampak buruk di masa datang? Tidak saja masyarakat yang semakin tergusur lahan sawah dan pategalannya, tetapi juga dampak buruk terkait dengan bencana alam. Sudahkah kita semua berpikir ke arah itu?
Tentu saja investor tak banyak yang peduli atau punya pikiran seperti ini. Mereka punya uang. Mereka bisa berbuat apa saja adengan uangnya. Kalau perlu “menyuap”. Itu bukan rahasia umum lagi jika terkait dengan konversi lahan.
Apakah pemerintah daerah Bantul sudah mengantisipasi soal itu? Apakah sudah disiapkan perangkat-perangkat aturan agar tidak menimbulkan dampak negatif? Apakah bisa? Tentu saja bisa. Karena pemerintah daerah yang punya kewenangan dan kekuasaan untuk melarang dan memperbolehkan. Jadi, apakah konversi lahan itu memang diijinkan oleh pemerintah daerah? Kalau tidak diijinkan mana bisa konversi lahan bisa dilaksanakan, bukan?
Tentu saja masyarakat umum tak punya pikiran sampai ke sini. Mereka tahunya ada perubahan yang tak bisa dihindarkan. Mereka tak tahu bahwa konversi lahan tak jarang juga bagian dari “permainan” investor dan pejabat daerah.
Saya jadi ingat kota Batu. Kota yang ada di lereng pegunungan itu tak pernah terdampak Banjir. Awal November 2021 terjadi banjir besar sampai ke Kota Malang. Banyak korban berjatuhan pula. Tentu ada banyak analisis. Satu analisis penting adalah karena adanya konversi lahan tersebut. Lereng yang sebelumnya bisa dipakai untuk menahan air sebagai peresapan sudah diganti tanaman sayur mayur. Sekarang banyak café, warung makan, tempat wisata yang itu semua diawali dari konversi lahan. Tentu saja tetap ada “kesepakatan” antara investor dengan pejabat daerah.
Saya yang tinggal di Malang lebih dari dua dekade baru menyaksikan banjir di kota Batu. Padahal kontur tanah Malang itu naik turun dan banyak resapan. Saya bisa membandingkannya saat ini dengan awal saya datang ke Malang tahun 1997.
Bagaimana dengan Bantul? Ada banyak contoh dari beberapa daerah. Saya tidak bermaksud menggugat kemapanan dan pendapatan daerah dari café, wisata, dan kuliner. Namun sebagai orang yang lahir dan menghabiskan masa kecil di Bantul tentu tetap menyintai kota yang juga terkenal dengan jajanan mie lethek-nya itu. Jadi jangan sampai kita terlambat mengantisipasinya. Jika tidak, maka akan ada ungkapan, “Bantulku Sayang, mBantulku Malang”.
Nurudin
Penulis lahir dan besar di Trirenggo, Bantul. Saat ini sebagai dosen Ilmu Komunikasi UNiversitas Muhammadiyah Malang (UMM).





