UMM menggelar Kuliah Pakar bertema Sosiologi Budaya: Apa Mengapa dan Bagaimana? 

Lewat Kuliah Pakar, Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang Soroti Perlindungan Budaya

Kampus

MALANG – Pesatnya perkembangan kebudayaan hari ini mendorong Magister Sosiologi Direktorat Program Pasca Sarjana (DPPS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kuliah Pakar. Kali ini, tema yang diangkat adalah “Sosiologi Budaya: Apa Mengapa dan Bagaimana?”

Kegiatan akademik tersebut diselenggarakan Senin (15/9/2025) secara daring dan diikuti 50 peserta. Mereka berasal dari Mahasiswa Magister dan Doktor Sosiologi UMM, serta para peminat sosiologi se-Indonesia.

Baca juga :  Terobosan Hilirisasi Sosiologi UMM Malang untuk Para Aktivis Pemberdayaan Masyarakat

Kuliah pakar tersebut mengundang Pembicara Agung Wibowo, Ph.D,. Agung merupakan Post-doctoral Researcher, Research Center for Atlantic, and International History (CRHIA UR 1163, La Rochelle – Nantes University), Prancis.

Ketua Program Studi Magister Sosiologi DPPS UMM Rachmad K. Dwi Susilo, MA, Ph.D menyatakan, tanpa dikatakan sebagai studi Sosiologi Budaya pun, para sosiolog ternama seperti Emile Durkheim, Max Weber, Karl Marx, Robert Putnam, Oscar Lewis, Pierre Bordeau sudah menggunakan konsep budaya dalam analisa mereka.

Selain itu, lanjut Rachmad, faktor budaya dan faktor struktur kerap digunakan pada analisa perubahan sosial dan kemiskinan melalaui studi Sosiologi Pembangunan.

“Tetapi konsep budaya berkembang pesat, terlebih di masyarakat digital hari ini, untuk itu, analisa budaya dalam perspektif sosiologis sangat dibutuhkan,” papar Rachmad.

Sebelum mengisi materi, Agung Wibowo menceritakan pengalamannya tertarik mengembangkan keilmuan di Prancis sampai dirinya menekuni ludruk sebagai budaya Indonesia. Riset ludruk yang dilakukan pada sejumlah kota/kabupaten di Jawa Timur menemukan banyak aspek antropologis yang menarik.

Hasil riset Agung ternyata menepis anggapan kurang baik yang disematkan ke ludruk. Padahal Ludruk, ungkap Agung, terkait erat perubahan sosial, transformasi politik, konstruksi pemikiran masyarakat dan perseberangan generasi muda dan tua di Indonesia.

Kesenian itu juga pandai mengadaptasi dengan budaya populer dan anak-anak generasi Z.

“Selama ini, pemerintah hanya memandang ludruk sebagai institusi kebudayaan atau pelaku seni, tidak ada entrepreneur kebudayaan. Selama ini dianggap sebagai pelindung kebudayaan, padahal seniman-seniman ludruk penggerak ekonomi lokal,” jelas Agung.

Kuliah Pakar tersebut merupakan kegiatan rutin program studi yang bertujuan menambah pemahaman mahasiswa magister dan doktor sosiologi UMM pada kajian Sosiologi. Baik terkait konsep, teori, metodologi dan isu-isu kontemporer. Kegiatan kuliah pakar sama pentingnya dengan kuliah di dalam kelas untuk menambah kualitas pembelajaran bagi sivitas akademika. (Heroe)

Analisa and International History Budaya. Daring CRHIA UR 1163 Direktorat Program Pasca Sarjana doktor sosiologi DPPS UMM kebudayaan konsep budaya Kuliah Pakar La Rochelle Magister Sosiologi Mahasiswa Magister Nantes University peminat sosiologi Post-doctoral Researcher Research Center for Atlantic Sosiologi Sosiologi Budaya Sosiologi Pembangunan UMM Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts