Nurudin, asli Bantul yang kini menjadi pengajar di Kota Malang.

Bantul, Tempat yang Selalu Membuat Saya Ingin Pulang

Opini

Oleh: Nurudin*

Ada satu pertanyaan yang sering saya dengar sejak tinggal di Malang. “Kalau disuruh memilih, lebih suka tinggal di Jawa Timur atau Yogyakarta?”

Saya biasanya hanya tersenyum. Sebab bagi saya, pertanyaan itu sebenarnya tidak punya jawaban yang benar. Saya mencintai tempat saya tinggal sekarang. Tetapi ada satu daerah yang selalu punya ruang khusus di hati saya. Namanya Bantul.

Baca juga :  Audit Dana Desa Kebutuhan Mendesak Wujudkan Good Governance Pemdes

Saya lahir dan besar di Kabupaten Bantul. Di sanalah saya belajar berjalan, bersepeda, bermain di sawah, hingga mengenal arti hidup dari orang-orang desa yang sederhana. Sampai sekolah pun saya masih di Bantul. Kuliah saya di Solo. Baru setelah menikah saya tinggal di Malang. Jarak memang memisahkan, tetapi rasa memiliki terhadap Bantul tidak pernah benar-benar hilang.

Bantul memang bukan kota besar. Tidak dipenuhi gedung pencakar langit. Tak pula dipenuhi pusat hiburan modern di setiap sudut jalan. Justru di situlah keunikannya. Bantul mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus mahal.

Saya masih ingat suasana pagi di kampung. Udara masih dingin. Burung-burung bersahutan. Suara ayam berkokok bercampur dengan lalu lalang para petani yang berangkat ke sawah. Rasanya sederhana. Tetapi kalau sudah lama tidak mendengarnya, saya justru merindukannya.

Bantul juga punya hubungan yang sangat dekat dengan alam. Di satu sisi ada hamparan sawah yang luas. Di sisi lain ada perbukitan. Tidak jauh dari sana terbentang pantai-pantai selatan yang terkenal dengan ombaknya. Dalam waktu sehari saja, saya bisa menikmati banyak suasana yang berbeda.

Pantai di Bantul selalu punya cerita sendiri. Bukan hanya soal pasir dan ombak. Ia juga tentang kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut. Saat saya kecil tidak ada nelayan di laut. Maklum, pantai selatan ombaknya berbahaya. Saat pantai Depok dikenal ada tempat pelelangan ikan.  Di baliknya, ada kerja keras yang mungkin tidak pernah benar-benar terlihat oleh para wisatawan yang datang untuk berfoto.

Kuliner Khas

Kalau berbicara tentang Bantul, rasanya tidak lengkap tanpa membahas kulinernya. Yang saya rindukan bukan makanan mahal. Justru warung sederhana di pinggir jalan yang membuat saya sering ingin kembali. Gudeg, sate klathak, pecel, mie jawa, mie pentil, adrem, hingga aneka jajanan pasar selalu punya rasa yang sulit dicari di tempat lain. Mungkin bukan karena resepnya berbeda. Tetapi karena setiap makanan selalu membawa kenangan.

Orang Bantul juga punya cara hidup yang unik. Mereka terbiasa menyapa siapa saja. Bahkan orang yang belum dikenal sekalipun. Kalau bertemu di jalan kecil, hampir pasti akan saling tersenyum atau menganggukkan kepala. Sikap seperti ini mungkin terlihat sepele. Namun ketika tinggal di kota yang lebih sibuk, saya baru menyadari bahwa keramahan ternyata adalah kemewahan.

Budaya gotong royong masih terasa kuat. Ketika ada tetangga punya hajatan, banyak orang datang membantu tanpa diminta. Saat ada warga yang mengalami musibah, bantuan mengalir dengan cepat. Tidak ada yang sibuk menghitung untung dan rugi. Semua bergerak karena merasa satu keluarga. Saat rumah saya waktu itu mau mengganti genting, mengabari ke tetangga. Mereka semua dengan senang hati datang membantu. Begitu juga sebaliknya.

Sederhana Tapi Kreatif

Hal lain yang membuat saya bangga adalah kreativitas masyarakat Bantul. Banyak perajin lahir dari daerah ini. Mulai dari kerajinan kayu, kulit, batik, bambu, hingga berbagai produk seni yang sudah dikenal sampai luar negeri. Saya sering kagum melihat bagaimana tangan-tangan sederhana mampu menghasilkan karya yang bernilai tinggi. Kerajinan gerabah di Kasongan terkenal sampai keluar negeri.

Anak-anak muda Bantul sekarang juga semakin kreatif. Banyak yang membangun usaha kecil, membuka kedai kopi, membuat konten digital, hingga mengembangkan produk lokal agar dikenal lebih luas. Mereka membuktikan bahwa tinggal di daerah bukan berarti kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Yang menarik, Bantul mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan perkembangan zaman. Yang saya amati anak muda tetap akrab dengan media sosial. Namun mereka juga masih bangga memakai batik, mengikuti acara budaya, atau sekadar menikmati pertunjukan seni tradisional. Jathilan misalnya. Modern bukan berarti harus meninggalkan akar budaya.

Ngangeni

Setiap kali saya pulang ke Bantul, saya selalu melihat perubahan. Jalan semakin baik. Tempat wisata bertambah. Kafe-kafe baru bermunculan. Anak-anak muda semakin aktif berkarya. Namun ada satu hal yang tidak berubah. Suasananya tetap membuat saya merasa pulang.

Saya percaya setiap orang punya kampung halaman yang selalu dirindukan. Bagi saya, Bantul bukan hanya titik di peta. Bantul adalah kumpulan kenangan yang tumbuh bersama perjalanan hidup saya. Di sanalah saya belajar menghargai kerja keras, kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur.

Mungkin bagi sebagian orang, Bantul hanyalah salah satu kabupaten wilayah selatan di Yogyakarta. Tetapi bagi saya, Bantul adalah tempat yang mengajarkan bahwa hidup tidak harus selalu berlari. Kadang kita hanya perlu berjalan pelan, menikmati semilir angin, menyapa tetangga, lalu bersyukur atas hal-hal kecil yang sering terlupakan.

Di zaman ketika banyak orang berlomba mengejar kehidupan yang serba cepat, Bantul justru mengingatkan saya bahwa ketenangan adalah kekayaan yang sesungguhnya. Barangkali itulah keunikan Bantul yang paling sulit dijelaskan dengan angka atau foto. Ia tidak hanya indah untuk dikunjungi, tetapi juga hangat untuk dirasakan. Selama kenangan itu masih ada, saya yakin Bantul akan selalu menjadi rumah yang membuat saya ingin pulang, sejauh apa pun langkah saya pergi.(****)

*Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); lahir dan besar di Kota Bantul.

adrem Bantul gudeg jawa timur Kabupaten Bantul Kampung kebahagiaan kreativitas kuliner Malang masyarakat Bantul mie jawa mie pentil pantai Pantai Selatan pecel pinggir jalan sate klathak sawah warung sederhana Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts