Saya Perfectionist, dan Bagaimana Menghentikannya 

Opini

Halo, apa kabar perfectionis? Semoga baik-baik saja ya. Saya akan selalu menjadi orang pertama yang mengaminkan doa tersebut. Karena jujur, dibeberapa hal, saya cukup ekstrem memiliki hal tersebut. Seperti masalah pekerjaan, kalau bukan saya yang mengerjakanya, lebih baik jangan.

Pemikiran seperti ini terkadang muncul, hal ini tentunya sangat mengganggu, karena pada kenyataanya kita tidak memiliki energi yang cukup untuk melakukan semuanya sendiri. Terkadang kemampuan untuk mempercayai orang lain bisa sangat melegakan.

“Nobody is perfect”

Kita semua pernah mendengar kalimat ini, dan ini adalah pernyataan yang semua orang akan mengakuinya sebagai fakta. Akan sangat mudah untuk memaafkan seorang anak berusia 1 tahun yang melakukan kesalahan, bahkan kita sering dibuat tertawa karenanya. Tidak terlalu sulit untuk memaafkan seorang teman yang memiliki sifat pelupa, pemarah, bahkan egois, walaupun sesekali kita mungkin akan lebih sering menghindarinya. Sebagai manusia kita memang bisa lebih mudah memaklumi kesalahan orang lain. Karena, nobody is perfect.

Baca juga :  Kota yang Ngayomi, Ngayemi, dan Ngayani

Tapi ketika hal itu terjadi kepada diri kita sendiri? Tidak jarang kita jadi mudah menilai, mengkritik, dan merendahkan diri kita sendiri, dan yang menjadi masalah sifatnya yang berlebih.

Kita sering fokus pada kekuranganya saja dan mengabaikan alasan yang sah di balik itu semua. Betapa sering kita fokus pada kelemahan dan meratapi kegagalan kita. Sehingga selalu mempertanyakan kenapa Tuhan harus menciptakan kita? Ini mungkin pertanyaan filosofis yang harus kita cari tahu sendiri jawabanya di sepanjang hidup, jadi tolong jangan mati dulu sebelum bisa mendapatkan jawabanya.

If Nobody is Perfect, You are not Perfect

Jika kita bisa menginternalisasi fakta ini dalam diri kita, tentu hal ini sangat membebaskan. Kalimat sakti ini bisa membebaskan kita dari penilaian diri yang ekstrim, dan memungkinkan kita untuk berdamai dengan sebuah kesalahan, kelemahan diri dan secara perlahan meningkatkan pertumbuhan yang baik, sesuai kodrat kita sebagai manusia.

Kalimat ini tentu bukan untuk membiarkan kamu menerima apa saja yang kamu punya saat ini tanpa mau mengambil tindakan untuk memperbaikinya. Tapi kalimat ini bisa menjadi sebagai pengingat bahwa kita adalah mahluk bernama manusia yang memiliki keterbatasan.

Mengutip kalimatnya Zachari Philips:

My goal is to be able to judge myself as I judge others. See my efforts and results in the same light as I would a friend or a stranger. View my flaws as I would view someone else’s: as a normal, acceptable part of being human.

Ya, begitulah seharusnya kita melihat diri kita, kita memiliki kemampuan untuk melihat dari bebagai sudut pandang, kanan, kiri, depan atau belakang. Ini memang tidak semudah kalimatnya, it easier said than done. Bagi saya, selalu ada pertempuran di kepala yang terjadi setiap hari. Setiap kali saya melihat ke cermin dan mempertimbangkan hidup. Saya langsung fokus pada semua kekurangan yang saya miliki, daripada melihat upaya yang telah saya lakukan untuk memperbaikinya, di satu sisi hal ini memang berdampak baik, tapi sayangnya saya lebih banyak menemukan hal buruk setelahnya.

Sial memang, hidup harus seperti ini. Kita memiliki pemikiran yang sangat rumit, emosi yang juga rumit, saya selalu berfikir apa lagi yang harus saya lakukan, tapi pada akhirnya saya tidak bisa melakukan apa-apa. Karena saya tahu hal tersebut bukan dalam kendali saya. Jadi saya hanya bisa diam dengan otak yang tak bisa berhenti berfikir, dan itu membuat saya semakin tertekan, harus memikirkan tentang pikiran saya sendiri, dan dari sana mungkin akan muncul satu atau dua hal yang akan terjadi. Coping stress yang buruk atau berusaha menemukan sebuah obat.

Menemukan Obat

Satu judul buku yang selalu saya ingat, The thing only you can see when you slow down.

Hal ini selalu mengingatkan saya tentang: berhentilah sejenak, pelan-pelan sedikit, tidak semua harus berubah sekarang, tidak semuanya harus diselesaikan saat ini juga, ada banyak hal-hal kecil yang bisa menjadi sumber kebahagiaan jika kita benar-benar memperhatikannya.

Yah, terkadang dengan mengingat judulnya saja ini cukup menenangkan. Kita hanya harus memulainya dengan menyadari negativitas tersebut, dan menerimanya tanpa memberikan sebuah komentar apapun.

Hal ini memang tidak akan langsung begitu saja membuat otakmu berhenti memikirkanya. Karena ini adalah sebuah proses latihan, Mindfulness.

Walau tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk dapat menghentikan mereka muncul, tetapi saya dapat menanggapinya, dan ini adalah kuncinya. Kita dapat dapat memilih tanggapan apa yang harus kita berikan ketika mereka muncul.

Ketika saya menyadari bahwa saya menilai diri saya sendiri: berfokus pada kegagalan dan ketidakmampuan, saya menarik napas dan menerima pikiran itu. Mereka datang karena suatu alasan, kemungkinan karena sebagian dari diriku merasa seperti itu (ngomong-omong, tidak ada yang salah dengan pemikiran, ia bekerja berdasarkan sumber informasi yang kita punya). Lalu dilanjutkan dengan ucapan terimakasih, saya berterima kasih kepada pemikiran ini karena sudah mengungkapkan kekurangan itu kepada saya, dan saya berjanji bahwa saya akan mengambil tindakan yang sehat untuk meningkatkan diri saya di bidang itu jika memungkinkan. Iya jika memungkinkan. Jika tidak saya hanya harus belajar mengikhlaskanya terjadi begitu saja, karna itu memang sesuatu yang sudah seharusnya terjadi.

Nurdin Adiyansah M.Psi.

Lulusan Pascarsarjana Magister Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, founder Lembaga Psikologi Lingkar Positif.

coping stress midfulness obat perfect perfectionist

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts