Sastra Menyeberang Medium: Komunitas dan Kolaborasi dalam Susur Galur IV FSY 2025

YOGYAKARTA – Diskusi bertajuk “Susur Galur IV: Komunitas Melintas” menjadi salah satu sesi reflektif dalam rangkaian Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025. Digelar di Panggung Pasar Sastra, Grha Budaya Embung Giwangan, Sabtu (3/8/2025) pukul 15.30–17.30 WIB, sesi ini menyoroti jejak dan transformasi komunitas sastra serta keterkaitannya dengan praktik seni lintas disiplin.
Diskusi menghadirkan tiga tokoh dari latar berbeda: Ismail Basbeth (sutradara film), Yustina Neni (pengelola ruang seni Kedai Kebun Forum), dan dimoderatori oleh Verry Handayani, pegiat teater. Ketiganya mengeksplorasi bagaimana praktik komunitas sastra kini tak lagi dibatasi oleh genre atau medium tunggal, melainkan bergerak bebas merambah seni rupa, film, hingga pertunjukan.
Dalam paparannya, Ismail Basbeth mengulas tren dalam perfilman yang semakin banyak menggali cerita dari sumber non-konvensional.
“Kalau dulu film cenderung bersandar pada novel atau cerita rakyat, sekarang cerita dari komunitas, arsip personal, hingga suara-suara marjinal bisa menjadi titik mula produksi,” ujarnya.
Ismail juga menekankan pentingnya kesadaran terhadap intellectual property sebagai bentuk perlindungan atas karya-karya komunitas yang seringkali bersifat kolektif.
Dari ranah seni rupa, Yustina Neni mengangkat relasi antara visual dan teks. Ia menyebut bahwa gambar dan tulisan memiliki logika waktu yang berbeda—visual muncul seketika, teks dibaca bertahap.
“Keduanya bisa saling menyeberang. Kami pernah menerbitkan karya Kuntowijoyo dengan pendekatan visual, mengunjungi lokasi-lokasi historis yang disebut dalam ceritanya, sehingga gambar menjadi penelusuran terhadap teks, bukan hanya ilustrasi,” ungkapnya.
Diskusi dipandu Verry Handayani dengan pendekatan khas dunia teater yang membuka percakapan lintas perspektif. Menurutnya, komunitas sastra hari ini tidak bisa dilepaskan dari potensi kolaborasi.
“Alih-alih membatasi diri, komunitas justru menemukan napas panjangnya saat bekerja lintas disiplin: antara teks dan gambar, antara film dan tubuh, antara ruang dan narasi,” katanya.
Antusiasme peserta yang terdiri dari penulis muda, seniman, mahasiswa, hingga pegiat literasi mewarnai jalannya diskusi. Percakapan informal bahkan berlanjut selepas sesi resmi usai, menandakan minat tinggi terhadap kemungkinan kolaboratif dalam praktik sastra hari ini.
Menanggapi diskusi tersebut, Ismawati Retno, Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, menyatakan, kekuatan sastra justru terletak pada kemampuannya untuk hidup dalam berbagai bentuk dan ruang.

“Sastra tidak selalu harus hidup di ruang baca atau panggung formal. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana dan di mana saja—di galeri seni, di layar film, di percakapan komunitas, atau bahkan di sudut-sudut kota,” ungkapnya.
Menurut Ismawati, pendekatan lintas disiplin seperti yang diangkat dalam diskusi Susur Galur IV memperlihatkan bahwa literasi bisa menjadi jalan bersama lintas bidang untuk menciptakan makna baru dan memperluas jangkauan dampak budaya.
Diskusi Susur Galur IV menegaskan bahwa komunitas bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi ruang hidup yang cair, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Festival Sastra Yogyakarta 2025, melalui sesi ini, kembali menandaskan bahwa sastra tidak berdiri sendiri, melainkan terus bergerak—melintasi batas medium, disiplin, dan generasi.(Heroe)





