Program Silent Reading bersama Perpustra. Program ini digelar Sabtu (2/8/2025), pukul 16.30–18.00 WIB, di selasar Grha Taman Budaya Embung Giwangan.

Silent Reading Bersama Perpustra: Ruang Sunyi di Tengah Riuh Festival Sastra Yogyakarta 2025

Seputar Jogjakarta

 

YOGYAKARTA – Di tengah riuh diskusi dan pertunjukan panggung, Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 menghadirkan ruang jeda yang tenang dan reflektif melalui program Silent Reading bersama Perpustra. Program ini digelar Sabtu (2/8/2025), pukul 16.30–18.00 WIB, di selasar Grha Taman Budaya Embung Giwangan, dan menjadi salah satu sesi paling sunyi namun bermakna dalam rangkaian festival.

Berbeda dari sesi lain, Silent Reading berlangsung tanpa panggung, tanpa pengeras suara, dan tanpa sambutan resmi. Pengunjung hanya diajak duduk bersama dan membaca dalam keheningan. Mereka bebas membawa atau meminjam buku, lalu larut dalam bacaan masing-masing, bersila di atas tikar atau beralas rumput di tepi embung yang disapu angin sore.

Baca juga :  Sastra Surup Hadirkan Puisi Senja dan Panggung Mini di Festival Sastra Yogyakarta 2025

“Silent Reading ini seperti ruang napas bagi pembaca. Kami tidak saling bicara, tapi semua hadir dengan semangat yang sama: mencintai buku,” ujar salah satu peserta dari komunitas pelajar literasi.

Puluhan peserta dari berbagai usia dan komunitas hadir, tenggelam dalam halaman demi halaman buku yang mereka baca. Ada yang membuka lembaran puisi, novel, buku sejarah, hingga komik. Tidak ada instruksi, tidak ada pengumuman. Suasana berlangsung hening, namun penuh makna, menjadikan area embung sebagai lanskap kontemplatif yang langka di tengah hiruk pikuk festival.

Staf Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Budi Yanto menyatakan, program ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman estetik yang bersifat intim dan menyentuh sisi batin pengunjung.

“Momen senja dimanfaatkan sebagai medium untuk membangun suasana kontemplatif yang selaras dengan semangat sastra sebagai ruang perenungan. Silent Reading menjadi bentuk perayaan terhadap kebudayaan membaca secara personal, namun juga bersama-sama,” ungkapnya.

Kegiatan ini mengingatkan bahwa membaca adalah praktik budaya yang tidak selalu membutuhkan sorotan atau selebrasi. Justru dalam keheningan dan konsistensilah, kebiasaan membaca tumbuh dan bertahan. Silent Reading memperluas pemahaman publik bahwa literasi bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga pengalaman emosional yang bisa dirayakan secara komunal dan diam-diam.

Melalui program ini, FSY 2025 menegaskan bahwa sastra tidak hanya hidup di panggung dan forum diskusi. Sastra juga hadir dalam kesunyian, dalam lembar-lembar yang dibaca bersama—tanpa tepuk tangan, tanpa sambutan, hanya dengan perasaan tenang dan rasa ingin tahu.(Heroe)

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta diskusi Embung Giwangan Festival Sastra Yogyakarta FSY 2025 Grha Taman Budaya pembaca Perpustra pertunjukan panggung ruang napas Silent Reading tanpa panggung tanpa pengeras suara tanpa sambutan resmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts