Menyelami Makna dan Tantangan Terjemahan Sastra Timur Tengah

YOGYAKARTA – Diskusi bertajuk Sastra Timur Tengah / Terjemahan Sastra Timur Tengah menjadi salah satu sesi penting dalam hari kedua Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025, Kamis (31/7/2025). Bertempat di Panggung Pasar Sastra, Grha Budaya Taman Embung Giwangan, sesi ini menghadirkan tiga narasumber yang aktif dalam dunia sastra dan budaya: Aguk Irawan, Bernando J. Sujibto, dan Zsa-Zsa Yahya.
Selama lebih dari satu jam, diskusi mengeksplorasi kompleksitas penerjemahan karya sastra dari kawasan Arab dan Turki. Tema ini membuka ruang pembahasan tentang dimensi spiritual, politik, dan estetika dalam sastra Timur Tengah, serta bagaimana proses penerjemahan dapat menjadi bentuk diplomasi budaya untuk memperkuat pemahaman lintas bangsa.
Diskusi dibuka dengan pembacaan puisi oleh Zsa-Zsa Yahya, yang juga bertindak sebagai moderator. Ia membawakan puisi berjudul Sajak Sebatang Lisong dengan gaya performatif yang kuat, membangun suasana reflektif sejak awal.
Aguk Irawan, dosen Seni dan Budaya STIPRAM Yogyakarta sekaligus penerjemah karya sastra Arab, membacakan puisi Salamun ‘Alaikum wa ‘Alainas Salam karya penyair Palestina, Anis Syausan. Ia menjelaskan bahwa puisi tersebut merefleksikan perenungan atas intoleransi yang lahir dari perbedaan keyakinan, warna kulit, maupun gender.
“Puisi ini mengajak kita melihat kemanusiaan secara lebih jernih. Bahwa hidup berdampingan dalam keberagaman adalah keniscayaan,” ujar Aguk.
Sementara itu, Bernando J. Sujibto, dosen Sosiologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan penerjemah sastra Turki membacakan puisi ‘Betapa Indah Mengingatmu,’ hasil terjemahannya dari karya penyair Turki, Nazim Hikmet.
Ia menyebut, puisi tersebut sebagai bentuk nostalgia terhadap kota kelahiran sang penyair yang dikenal sebagai sosok komunis romantis.
Menurut Bernando, karya-karya Hikmet memperlihatkan bahwa sastra dapat menjadi napas sosial, ruang ekspresi identitas, dan catatan sejarah personal.
“Sastra Turki bukan hanya tentang bentuk, tapi juga tentang perjuangan dan memori kolektif,” katanya.
Diskusi semakin dinamis ketika Aco Ma’ruf, mahasiswa dari Universitas Cokroaminoto (Uncok) Yogyakarta mengajukan pertanyaan filosofis mengenai asal-muasal kemunculan sastra di Timur. Ia menanyakan, apakah kemunculan sastra Timur dipengaruhi perkembangan filsafat, dan bagaimana epistemologi Timur dan Barat memposisikan sastra dalam sejarah intelektual.
Menanggapi hal itu, Aguk Irawan menyampaikan, jauh sebelum dikonstruksi secara akademik oleh filsafat Barat, masyarakat Timur telah menulis dan menafsirkan kehidupan melalui teks-teks suci, hikayat, dan syair.
Aguk Irawan menjelaskan, sastra di Timur lahir dari dorongan spiritual dan kosmologis, bukan dari sistem pengetahuan rasional seperti dalam tradisi filsafat Barat.
“Di Timur, sastra dan filsafat tidak pernah benar-benar terpisah. Tapi filsafat tidak selalu disebut filsafat—kadang hadir sebagai doa, syair, atau kisah,” ujarnya.
Ditambahkan Aguk Irawan, epistemologi Timur cenderung intuitif dan sufistik, sedangkan Barat menekankan sistem logika dan rasionalitas.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif dengan partisipasi dari mahasiswa, akademisi, penerjemah, dan pegiat literasi. Selain membahas aspek linguistik dan budaya, para pembicara juga menyoroti terbatasnya akses terhadap teks sumber asli serta pentingnya penerbitan karya sastra Timur Tengah secara lebih luas di Indonesia.
Melalui sesi ini, FSY 2025 menegaskan kembali peran penting sastra sebagai jembatan lintas budaya. Di bawah tema besar Rampak, festival ini mendorong penerjemahan sebagai medium yang memperluas akses terhadap warisan sastra dunia, memperkuat empati antarbangsa, dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan dalam konteks global.(Heri)





