Yuliantoro, seorang penulis lepas.

Takdir yang Diubah oleh Air Mata Ibu

Opini

Oleh: Yuliantoro*

Di sebuah kota tua di Maghrib, hiduplah seorang wali yang dikenal masyarakat, karena ibadahnya yang panjang dan keshalihannya yang bening. Beliau adalah Syekh Abdul Aziz ad-Dabbagh. Nama beliau sering dibicarakan para murid, bukan karena karamah atau kedalaman ilmunya semata, tetapi karena ketenangan hatinya. Beribadah tanpa menuntut balasan apa pun selain ridha Allah.

Suatu malam, ketika seluruh manusia tertidur dan malaikat mendata amal-amal di Lauhul Mahfudz, satu nama menarik perhatian yaitu Abdul Aziz bin ad-Dabbagh. Ia tergolong penghuni neraka.

Baca juga :  Soeharto Pahlawan? Hati-Hati, Sejarah Bisa Diputarbalikkan

Bukan karena sedikit ibadah, bukan karena maksiat besar, tetapi karena sesuatu yang tak terlihat manusia.

Seorang malaikat yang diberi tugas melihat catatan itu tersentak. Ia mengenal Abdul Aziz bin ad-Dabbagh adalah ahli zikir yang sujudnya tak terhitung. Seorang wali yang wajahnya selalu basah oleh munajat.

Malaikat itu turun menemuinya. “Wahai Abdul Aziz,” katanya, “Untuk apa engkau bersungguh-sungguh dalam ibadah? Aku telah melihat namamu tercatat sebagai penghuni neraka. Sebanyak apa pun ibadahmu, takdir itu tidak berubah.”

Syekh Abdul Aziz terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara yang nyaris seperti bisikan malam: “Aku tidak beribadah untuk surga. Aku tidak menjauhi maksiat karena takut neraka. Aku diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Allah. Surga atau neraka adalah hak-Nya. Tugasku hanya sujud.”

Jawaban itu tidak hanya menggema di bumi, tetapi juga di langit. Ketika malaikat kembali menatap catatan takdir, ia melihat sesuatu berubah. Nama Abdul Aziz kini tercatat sebagai penghuni surga.

Malaikat kembali membawa kabar gembira. “Wahai Abdul Aziz, Allah telah mengangkat derajatmu. Engkau kini penghuni surga.”

Syekh itu tersenyum tipis. “Segala puji bagi Allah. Tapi ketahuilah, aku tetap akan beribadah dengan cara yang sama. Keridhaan-Nya lebih tinggi daripada surga itu sendiri.”

Namun sebelum pergi, malaikat itu bertanya hal yang tak kalah penting. “Wahai hamba Allah, tahukah engkau, apa sebab namamu dahulu tercatat sebagai penghuni neraka?

Syekh Abdul Aziz menggeleng. Malaikat mulai bercerita dengan suara berat. “Ketika engkau masih remaja… ibumu berjalan menuju kamar untuk memintamu pergi ke pasar. Kau sudah terjaga, tapi kau berpura-pura tidur agar tidak diminta menuruti perintahnya.” Ibumu melihatmu tertidur dan berkata pelan, “Kasihan anakku, biar aku sendiri.

Malaikat menunduk. “Pada malam itulah Allah murka. Karena engkau mengabaikan ibumu—meski hanya sekali, meski hanya pura-pura tidur.”

Syekh Abdul Aziz tertegun. Air matanya jatuh tanpa suara. Malam itu ia bersujud lebih lama dari malam-malam sebelumnya, memohon ampun atas kelalaian kecil yang hampir menghapus seluruh amal besarnya.

Sejak saat itu, ia mengubah jalan dakwahnya. Bukan lagi membahas maqam spiritual, bukan lagi kisah karamah, tetapi tentang bakti kepada orang tua. Setiap tamu yang datang, ia sambut dengan nasihat senada. “Dekatkan dirimu kepada Allah melalui ibumu. Jangan biarkan beliau menunggu panggilanmu, apalagi menahan tangisnya sendirian.”

Dan memang, banyak manusia terjebak dalam logika amal besar—sedekah berjuta-juta, zikir ribuan kali, umrah berkali-kali—tetapi gagal dalam perkara yang tampak sepele. “Tidak menjawab panggilan ibu, mengeraskan suara saat lelah pulang tanpa menyapa, sibuk memberi kepada semua orang, tapi lupa menafkahi rumah sendiri.”

Kita sering menganggap dosa besar adalah zina, riba, korupsi. Tapi bagaimana dengan air mata ibu Bagaimana dengan senyum ayah yang dipaksa tabah? Bagaimana dengan pesan pendek yang tak dijawab?Mungkin, yang mencatat murka bukan perbuatan besar, tetapi kelalaian kecil yang kita anggap wajar.

Hari ini, mungkin kita tidak menjadi wali seperti Syekh Abdul Aziz. Kita tidak memikul kitab Lauhul Mahfudz. Kita tidak melihat catatan malaikat. Tapi kita tahu satu hal. “Keridhaan Allah terletak pada ridha orang tua. Murka Allah terletak pada murka orang tua.”

Jika tangan kita belum mampu berbuat banyak untuk mereka, ringankan lisan kita untuk mendoakan. “Ya Allah, ampuni dosa orang tua kami. Lapangkan kuburnya bagi yang telah mendahului. Sehatkan, bahagiakan, dan muliakan yang masih hidup. Jadikan kami anak yang tidak menyesal ketika liang lahat telah terisi tanah.” Sebab jangan sampai amal besar kita kandas hanya karena kita… pernah pura-pura tidur. (****)

*Penulis adalah Alumnus Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta

ahli zikir Allah ibadah ilmu karamah kedalaman ketenangan hati kota tua Lauhul Mahfudz Maghrib maksiat besar malaikat munajat neraka penghuni Ridha Syekh Abdul Aziz ad-Dabbagh wali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts