Islam Karisma untuk Magelang Mendunia
A. Kota Magelang Tercinta
Kami bersyukur lahir dan dibesarkan di Kota Magelang. Sekalipun Magelang termasuk kota kecil, namun kota ini memiliki dua keunggulan penting yakni berhawa sejuk dan lokasinya berdekatan dengan kota besar seperti Semarang dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di Magelang, peninggalan kolonial banyak seperti bangunan tandon air, pintu gerbang kerkof dan bangunan-bangunan tua lain. Kita bangga, kota ini menjadi saksi perjuangan mengusir penjajah. Dalam Film Senja Merah di Magelang yang kita bisa tonton di youtube kita menyaksikan perjuangan warga kota mengusir penjajah pasca Proklamasi 17 Agustus 1945.
Pusat-pusat militer menjadi ciri khas kota ini. Akademi militer dan Gunung Tidar menjadi kawah Candradimuka para prajurit yang akhirnya menjadi pemimpin yang mewarnai bangsa ini. Bisa dikatakan semua perwira TNI pasti pernah tinggal di kota setidak-tidaknya selama menempuh basis kemiliteran.
O ya, kota ini juga dikenal sebagai kota peristirahatan dan pensiunan. Penulis sendiri tidak mengerti maksud keduanya, apa maksudnya untuk istirahat, setelah bertahun-tahun “mengakumulasi kapital?”. Atau sekedar menghabiskan sisa usia sambil mendekatkan diri kepada Tuhan YME? Kalau begitu, kita yang masih di usia produktif tidak memiliki kesempatan ya? Ah, perlu diskusi panjang untuk mengelaborasinya.
Kebetulan para penulis lulusan SMA Negeri 1. Saat itu dan mungkin sampai sekarang, SMA Negeri 1 paling unggul yang disusul SMA-SMA Negeri lain. Selain dikarenakan usia sekolah ini yang sudah terbilang tua, juga dari sekolah ini telah lahir para alumni yang menjadi pejabat pemerintah pusat di setiap orde.
B. Kehadiran Karisma
Medio 1984-1993, selain SMA Negeri 1 memiliki prestasi-prestasi akademik yang membanggakan, salah satu kebiasaan produktif anak- anak SMA yang tidak sama dengan SMA lain yakni aktif berorganisasi. Antusiasme dalam berorganisasi ditunjukkan dengan begitu meriahnya setiap suksesi atau pergantian Ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan ketua bantara (organisasi kepanduan). Perebutan “kursi” pimpinan berlangsung keras, isu-isu agama, kompetensi dan kesukuan anak sosial dan anak fisika meramaikan “jagat” organisasi ini. Kami hidup di Era Orde Baru, sekalipun narasi politik dinyatakan sebagai suasana otoritarianisme, tetapi tidak banyak berpengaruh pada suasana organisasi sekolah. Dan, ternyata kemeriahan ini tidak hanya di organisasi intra sekolah, tetapi juga organisasi ekstra sekolah salah satunya Karisma (Keluarga Remaja Islam Magelang) ini. Karisma menjadi lembaga ke-Islaman yang mewadahi remaja Islam dari sekolah manapun, apakah siswa SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3 atau sekolah-sekolah yang lain. Kegiatan rutin yakni
Bimbingan Belajar dengan kegiatan terjadwal, Telaah Ahad Dhuha (TAD) yang dikemas dalam bentuk pengajian setiap Hari Ahad (Minggu) yang diselenggarakan di Masjid Jami’ atau Masjid Agung Kota Magelang atau Masjid Besar Kauman. Sedangkdan kegiatan tahunan biasanya adalah Penyediaan Hewan Korban,Try Out UMPTN dan buka bersama.
Saat Masjid Besar Kauman diadakan pengajian akbar rutin tiap Ahad Pahing, biasanya pengurus KARISMA mengadakan rapat disalah satu rumah anggotanya sebagai bagian dari program Home Visit. Rapat Ahad Pahingan inilah KARISMA menrencanakan program programnya.
Pengurus harian mengundang ustadz atau ahli-ahli agama untuk memberi bekal-bekal ilmu ke-Islaman. Anak-anak SMA sangat antusias dan haus ilmu agama. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu. Para remaja ini menggunakan waktu luang dengan baik, sementara menunggu ustadz hadir, anak-anak Karisma “tadarus” bersama.
Kegiatan terkait dengan agama dalam habitus anak-anak SMA seperti “islamisasi” Ilmu pengetahuan dan materi umum untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan, alumni SMA Negeri 1, siap menyediakan tempat jika adik-adik SMA ujian masuk perguruan tinggi di tempat tinggal alumni tersebut.
Kegiatan yang dikenal sebagai Telaah Ahad Dhuha berlangsung muai pukul 10.00-13.00 WIB (sekitar 3 jam). Ciri khas Karisma adalah di mentoring, dimana disitu ada diskusi tematik dengan trigger kasus keberagamaan, seperti tauhid, fiqih dan amaliah. Kegiatan ini tidak sekedar pengajian menghadirkan ustadz, tapi setelah itu ada proses mentoring itu, mengasah logika sehingga beragama tidak menjadi terlalu taqlid. Selain itu juga, dalam mentoring juga terjadi proses meng-konteks-kan nash-nash Al Qur’an dan hadits dalam isu-isu kontemporer. Biasanya setelah dhuhur, ada sedikit rapat “informal” pengurus dan setelah itu kita bubar.
Keunggulan organisasi ini adalah kuatnya jejaring sosial antar pengurus dan alumni. Para alumni yang masih solid terkoordinasi menjadi titik penguat ini. Selain itu para alumni masih “cawe-cawe” kepada adik kelas mereka dalam memperkuat keorganisasian SMA, motivasi dan sharing gagasan cerdas. Setidak-tidaknya sampai tahun 2000-an, kecenderungan semacam ini masih terlihat jelas.
Berbagai ilmu pengetahuan baik ilmu agama maupun ilmu kampus disampaikan ke adik-adik tingkat. Isu nasional tidak luput dari perbincangan mereka. Kedatangan kakak tingkat dari kampus-kampus keren seperti UGM, ITB, Stan, ITS dan lain, pasti memunculkan kebanggaan bagi adik tingkat dan sekaligus memupuk semangat anak muda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1.
Karisma berhasil menjadi ajang pertemuan anak-anak SMA Negeri 1 Magelang baik yang sedang sekolah maupun alumni. Cerita pengalaman para alumni yang tinggal di Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau kota-kota yang lain membuat siswa SMA terbelalak dan selalu semangat untuk belajar. Mungkin, mereka ingin melanjut sekolah karena ingin perubahan nasib atau melakukan mobilitas vertikal seperti para seniornya itu.
Dari kegiatan berbasis keagamaan ini, Karisma melakukan ekspansi. Kali ini membentuk lembaga bisnis dalam bentuk rental komputer yang dinamai Tidar Rental Computer. Posisi dekat dengan kampus UNTIDAR dan tentunya melalui kekompakan pengurus, membuatnya lembaga bisnis cepat berkembang. Selain itu, back up para alumni membuat lembaga ini tidak pernah kekurangan dana.
Setelah itu, Karisma mengembangkan Elamaga Internet, Yayasan Karisma, koperasi, dan BMT yang hingga kini masih bergerak dengan berbagai macam kegiatan bisnis dan pemberdayaan ekonomi. Setiap Ramadan, lembaga ini konsisten memberi bantuan untuk kelompok-kelompok yang membutuhkan. Di sinilah fokus Karisma menjadi lembaga pemberdaya ekonomi dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai basis.
C. Alumni Karisma menjadi Wali Kota Magelang
Lulus dari SMA, alumni Karisma rata-rata meninggalkan Magelang dan kebanyakan melanjutkan kuliah sesuai ilmu pengetahuan yang diminati. Karena alumni SMA N 1 Magelang orang-orang cerdas dan pandai, maka mereka tersebar di kampus-kampus besar dan ternama di Indonesia dan bahkan di belahan bumi lain seperti Austria dan Jepang.
Akhirnya, setelah lulus mereka banyak memilih karir menjadi peneliti, pemberdaya, pendidik, birokrat, wirausaha, pengusaha, politisi, dan pejabat pemerintah. Hal ini membawa konsekuensi ke pemilihan domisili. Tempat tinggal mereka juga bervariasi. Banyak alumni Karisma yang tinggal di kota-kota besar, bahkan ada yang tinggal dan berkarir di luar negeri.
Sekalipun demikian, ada pula yang tidak melanjutkan studi ke bangku kuliah atau langsung bekerja. Mereka menjadikan Magelang sebagai ajang berkarya atau beraktualisasi. Setelah menempuh kuliah, mereka menetap atau kembali ke Magelang sebagai PNS, politisi, wirausaha atau pekerjaan yang lain.
Terkait aspek politik, cukup lama para alumni Karisma khususnya tinggal di luar kota tidak memerhatikan dinamika politik di Magelang karena hubungan dengan sistem politik lokal tidak dekat. Selain itu memang Karisma bukan organisasi politik dengan’doktrin’ ambisius-konspiratif untuk merebut ‘kekuasaan’. Tapi cukup bahwa kader-kadernya ter-shibgoh (tercelup) dengan nilai-nilai ke-Islaman, dimanapun mereka bisa beraktualisasi dan berkiprah dalam bentuk apapun.
Barulah kita mendengar ada alumni Karisma yang menempuh jalur politisi di tahun 1999. Bahkan, senior kami ini, akhirnya sukses berkiprah di politik tingkat nasional sampai tiga periode keanggotaan legislatif. Dan, sebagai kader Karisma beliau masih lekat memperjuangkan nilai-nilai Ke-Islaman dan Keumatan. Setelah itu, di tahun 2021 ini kita mendengar Mas Aziz, biasa kami memanggilnya, berhasil memenangkan pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Magelang tahun 2020.
Sama dengan kami kebanyakan, Mas Aziz sebenarnya perantauan. Setelah lulus dari Ilmu Kedokteran dan pendidikan dokter spesialis penyakit dalam di UNDIP (Universitas Diponegoro) Semarang, ia menjadi warga Pemalang, Jawa Tengah dan menekuni sebagai dokter spesialis dan pebisnis rumah sakit yang bisa dibilang sukses.
Menanggapi Mas Aziz menjadi wali kota, perasaan kedekatan sesama alumni SMA N 1 Magelang dan pegiat Karisma tumbuh. Karena realitas sosial kami memang punya kedekatan. Selain itu, pada banyak kesempatan Mas Aziz menyatakan pengalaman dan memori sosiohistoris dengan Karisma tersebut. Termasuk, pada suatu kesempatan bertemu dengan para senior ia meminta agar TAD Karisma yang sempat vacuum dihidupkan lagi.
Keberhasilan Mas Aziz menduduki Magelang 1 ini menuai berbagai pujian dan harapan. Alumni-alumni Karisma se-dunia terbuka dan siap memberi yang “terbaik” untuk kota kelahiran. Referensi best practice dan lesson learned di perantauan siap disumbangkan apabila diminta. Bayangan Kota Magelang hari ini akan dikelola dengan basis pemikiran “terbaik” sedunia muncul kembali.
Pertemuan dengan Pak Wali, Januari 2022 membangun kebersamaan dan semangat untuk Kota Bunga Magelang. Kesempatan itu terbuka lebar, kita pernah disatukan di Kota Magelang. Kemudian, melalui kekuasaan dan otoritas, kota ini bisa ditata dan dipercantik. Ada harapan mulia bahwa kepemimpinan Mas Azis mampu menginspirasi sebagai model kepemimpinan rahmatan lil ‘alamiin. Salah satunya, ia jelas bukan lagi milik Karisma tetapi milik warga Magelang lintas strata, lintas golongan dan lintas agama. Mas Aziz bekerja untuk baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur Kota Magelang.
D. Geliat Ber”Karisma” Tumbuh Kembali
Dengan motor alumni Karisma utamanya yang tinggal di Yogyakarta, geliat Karisma tumbuh kembali. Salah satunya pertemuan yang digagas Mas Ridwan awal Tahun 2022 dimana telah melahirkan kegiatan “Ngopi bareng Pak Wali” antara Mas Aziz dengan Karisma. Pemikiran Alumni Karisma dari berbagai disiplin ilmu terlontar hebat. Ide-ide mengalir deras dan ada harapan untuk membuat perubahan “signifikan” di Kota Magelang. Social capital para alumni SMA Negeri 1 juga siap disumbangkan.
Geliat berkarisma kian kencang ketika kegiatan TAD (Telaah Ahad Dhuha) diselenggarakan selama Bulan Ramadan 2022/1443 H setiap habis shubuh. Dalam TAD Ramadan ini, wali kota menjadi salah satu pembicara yang mengangkat isu kepemimpinan, peta politik lokal dan semangat ber-Islam.
Kegiatan TAD Karisma ini menghasilan beberapa temuan, yakni:
- Kegiatan ini keagamaan inklusif yang mempertautkan gagasan pembicara dan peserta. Sikap ingin belajar dan toleransi sangat tinggi.
- Kegiatan ini berhasil memetakan sumber daya (resources) Karisma.
- Para pembicara dengan variasi gelar dan latar belakang dari sekedar berbagi pengalaman, studi keilmuwan dan membuka peluang-peluang jejaring bahkan sampai memberi masukan-masukan untuk kebaikan Kota Magelang.
- Para pemateri dan peserta merupakan orang-orang yang profesional, kompeten dengan pemikiran dan gagasan inspiring, kontributif dan futuristik.
- dan lain-lain.
Kami menyimpulkan bahwa TAD merupakan pintu masuk dan momen tepat untuk menyegarkan dan mengaplikasikan nilai-nilai ke-Islaman Karisma yang pernah terlembaga yang kemudian dikemas dalam konteks kekinian. Sekalipun masih terdengar utopis, mungkin praktik-praktik ke-umatan akan berkontribusi pada maju Kota Magelang ke depan. Sederhananya, dalam bahasa enteng-entengan, melalu “pencerahan” Karisma, Magelang mampu “mengalahkan” dominasi Kota Yogyakarta dan Semarang. Atau mungkin, bahkan berhasil mewarnai dunia? Who knows?
E. Agenda ke depan
Karisma dan SMA Negeri 1 merupakan arena sosial pertemuan anak-anak Karisma hari ini. Setelah mereka “bertebaran di muka bumi”, kini mereka kembali dipertemukan dengan membawa beragam sumber daya yang luar biasa. Seperti, Alumni yang memiliki sumber daya material, sumber daya sosial, simbolik, politik sampai modal sosial. Alumni berjejaring lokal, nasional sampai internasional.
Masing-masing orang sudah memiliki habitat masing-masing. Relasi antar sesama alumni tidak mengikat dan cair. Senada dengan kata karisma sebagai keluarga besar yang dipertemukan oleh nilai-nilai luhur dan ukhuwah Islamiyah. Posisi mereka sangat merdeka dan nilai-nilai Islam masih menjadi basis dalam hidup. Konsistensi ini beragam masih jelas terlihat, setidak-tidaknya penulis mengamati dari simbol-simbol yang dikenakan.
Model Islam yang dikembangkan juga tidak berubah yakni perpaduan Islam tekstual dengan Islam kontekstual. Sederhananya, kita boleh dan bisa bicara apa saja demi menemukan hikmah tanpa kewajiban mengutip ayat-ayat Al Qur’an dan hadits Nabi. Sebab sekalipun belajar ilmu pengetahuan modern yang nota bene “anak” peradaban barat, tetapi anak-anak Karisma tidak otomatis menjadi sekuler. Kecerdasan memfilter dan mengemas secara apik melahirkan Islam universal dan rahamatallil alamin. Maka, dalam TAD selama bulan Ramadan dinyatakan bahwa Islam Karisma merupakan Islam universal, Islam inklusif dan Islam berkontribusi pada kebaikan tata alam dan sosial.
Inklusif artinya terbuka pada banyak gagasan dan pemikiran yang tidak terkotak-kotak mahdzab, batas politik, kultural dan geografis. Universal menjelaskan tentang visi Islam rahmatal lil alamin yang berlaku untuk lokasi manapun dan melahirkan out put dan out come untuk alam semesta.
Kita sama-sama muslim dan warga Magelang dan basis primordialisme berdasar nilai dan kewilayahan ini menyatukan semua. Hari ini kita melihat rintisan-rintiasan Karisma sebagai karya “amal saleh” demi mengusung perubahan di Magelang.
Adanya Mas Aziz yang menjabat sebagai Walikota sesungguhnya political opportunity yang akan membuka kiprah-kiprah rill lain. Nah, demi mencapai kesana, kami mengusulkan tiga strategi bisa dilakukan sebagai strategi interaksional, kultural atau struktural.
1. Strategi interaksional
Strategi interaksional yakni memperkuat dan melembagakan (instituzionalization) silaturahmi antar pegiat Karisma. Silaturahmi diwadahi dalam kegiatan tukar menukar informasi, konsep, gagasan dan jejaring sosial. Formatnya kurang lebih sama dengan TAD Ramadan kemarin. Selain itu menjadikan remaja-remaja Magelang sebagai basis pembinaan dan tarbiyah. Masa-masa Karisma dengan basis Remaja pernah ada dan bisa dihidupkan kembali.
2. Strategi kultural
Strategi kultural yakni mewarnai Kota Magelang dengan tanpa masuk struktur pemerintahan. Sederhananya, kiprah tidak ada kaitan dengan politik. Ada alumni Karisma sebagai walikota atau tidak tidaklah berpengaruh. Ibarat tokoh Pewayangan Kumbokarno, aktualisasi di Magelang didorong cinta tanah air yang merupakan fitrah manusia. Kalau mencari legitimasi, “cinta tanah air adalah sebagian dari iman”. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan yakni memberikan konsep “segar”, evaluasi, korekasi dan penguatan jejaring sosial demi suksesnya pembangunan kota.
3. Strategi struktural
Strategi struktural yaitu para alumni masuk bagian sistem, misalnya anak-anak karisma bekerja di Pemerintahan Kota Magelang atau kota/kabupaten yang lain atau sebagai anggota legislatif dengan kerja-kerja terukur. Mereka harus menunjukkan kemuliaan nilai-nilai Islam itu dalam bentuk performans dan capaiain kinerja yang tidak sama dengan birokrat kebanyakan. Romantisme Islam memimpin peradaban dunia menjadi “motor, pertaruhan dan way of life” birokrat jebolan Karisma.
Tetapi strategi struktural rentan karena banyak pertaruhan politis, maka kami setuju dengan strategi kultural dengan memberikan masukan berharga pada para pengambil kebijakan. Tanpa ikatan formal pengurus menyumbang konsep atau model terbaik untuk kemajuan kota. Namun persoalan penyampaian gagasan ini juga tetap membutuhkan kerja keorganisasian. Kalimat populer menyatakan “kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”.
Salah satu rencana Karisma ke depan yakni membentuk Karisma Institute. Tujuan organisasi ini sederhana yakni mewarnai perubahan Kota Magelang, Kota di Indonesia dan bahkan wilayah se-Indonesia. Tentunya yang namanya Institute merupakan organisasi dengan basis sikap kerelawanan dan kepedulian dengan menghimpun kiprah orang yang peduli. Sekalipun semua organisasi membutuhkan logistik, ia tidak bertujuan mengejar keuntungan. Kurang lebih mirip dengan CSIS atau CIDES zaman Orde Baru. Baik gagasan, pemikiran dan pendanaan dihimpun dari alumni.
Secara positif keberadaan Karisma Institute bukan hanya untuk Kota Magelang. Ia siap memberi masukan-masukan berharga bagi dunia baik level lokal, nasional sampai global. Terlebih sebagai kelompok di luar struktur dengan sumber daya yang unlimited, bekerja di aras out of the box, posisi ini strategis, positif kontributif.
Dalam perencanaan yang mulai bergulir kencang, Karisma Institute memiliki target jangka menengah yang akan digawangi oleh pengurus karisma angkatan 94. Untuk mencapai target ini, dirancang kegiatan-kegiatan penunjang, diantarannya adalah syawalan pada Hari Rabu tanggal 4 Mei 2022 bertempat di BMT KARISMA, TAD Ahad Pahingan secara daring, penerbitan buku hasil percikan percikan pemikiran TAD Ramadhan, serta kegiatan kegiatan penunjang lainnya. Semua kegiatan Karisma Institute tidak hanya untuk Alumi Karisma melainkan diperuntukan untuk semua kalangan dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.
Akhirnya, seiring dengan berlalunya Bulan Ramadan 1443 H, semangat untuk Karisma Reborn ini kian menerjang. Memang, cita-cita ini tidak semudah membalikkan telapan tangan. Benturan-benturan gagasan, harapan dan cita-cita mewarnai upaya mengkreasi Karisma “Baru” ini. Kita harus sambut dengan suka cita, optimisme dan kerja keras. Berbahagialah, keberhasilan menjadikan Karisma sebagai “sarana” perubahan dunia sudah di pelupuk mata. Semoga.(*)
Tulisan ini merupakan kolaborasi dua penulis, yakni Ridwan Irawan, Karisma 1989, yang sekarang sebagai Konsultan Pendidikan Karakter Bangsa dan Rachmad Kristiono DS, MA, Ph.D, Karisma 1993, Dosen Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur concern pada Isu-Isu Sosiologi dan Kebijakan Lingkungan.





